Friday, January 13, 2006

Banjir itu candu

delapan… tiga, dua , satu ……..Byuuur :

Tenang saudara-saudara, tenang….banjir sudah datang

(iklan rokok putih A Mild)

  

Aku bukan perokok, dan tidak suka asap rokok karena suka bikin asmaku kambuh, tapi untuk iklan yang satu ini, aku mau angkat jempol tangan hingga kaki Dari waktu-kewaktu iklan A Mild makin cerdas. Dari mulai nyentil pendidikan,  penerangan hingga banjir. Aku rasa kalian setuju jika iklan ini adalah paling cerdas  di televisi saat ini. Iklan ini dengan tajam menggambarkan banyak hal, pemerintah yang mati rasa, rakyatnya yang tak berdaya dan dipaksa beradaptasi terus dengan bencana dan banjir, dan mau lagi  Sampai tidak tahu bagaimana dan siapa yang harus bertanggung jawab atau bersuka rela mengurai benang kusut bencana banjir yang terjadi : …….TANYA KENAPA? 

iklan ini mengantarku pada satu kejadian : bencana banjir di Jember. Di

Kotaku, setidaknya sekitar 40 km dari rumahku. Nama tempatnya desa Kemiri,

kecamatan Panti. Terakhir dikabarkan Korban meninggal sedikitnya 107 orang,

dan ribuan mengungsi. Bencana datang menjelang malam, setelah hujan datang

tak berhenti. ratusan rumah, pasar , masjid dan lainnya rata terbawa arus

sungai bersama gelondongan kayu baik kayu lapuk tua hingga baru. memang tak

sedahsyat bencana Bohorok, dengan kayu yang gelondongan se gedong-gedong itu.  

 

Ironisnya, pejabat negara ini secara berjamaah , mulai Bupati hingga

presiden menyatakan bahwa bencana datang karena kehendak Allah SWT,

penyebabnya hujan yang terus menerus, hutannya tidak ada yang gundul

menurut  foto satelit. Masih utuh dan bagus. Ah….. aku jadi tak habis

bikir, sejak kapan Tuhan suka iseng mengirimkan bencana tanpa alasan,

bahkan tanpa tanda. Apalagi dengan kondisi lahan kawasan hulu yang rusak

berat. Maaf Tuhan, …….. yang paling aman dilakukan oleh pengurus negara

ini memang menyalahkan Mu. Entah Kau suka atau tidak ! 

 

Waktu sekolah dulu,  aku sempat menelusuri sungai kaliputih (sungai yang

bajir tersebut), bersama Jack, adikku di MAPENSA, kami bersepeda

motor  hingga jalan kaki menyelusuri sungai kali putih sekitar tahun 1999.

Waktu itu kami mencari tahu mengapa air sungai menjadi sangat putih

berpasir dan berbau seperti belerang busuk, selama beberapa bulan. Sumpah !

daerah sepanjang tepi sungai sangat indah dengan tebing-tebing tingginya.

Kami menjumpai hewan-hewan yang aneh, katak aneh berwarna hijau terang dan

bisa terbang, hingga puluhan pacet (lintah yang hidup di darat) penghisap

darah, air terjun dan beberapa bagian pasir hisap dipinggiran sungai.

Sayangnya kami tak bisa mencapai bagian paling hulu sungai, peralatan tidak

memadai. Kawasan huluuuuuu sungai ini adalah kawasan pegunungan hyang,

Argopuro. Tempat  pecinta alam bermain , mengamati burung hingga melakukan

Diklat. Kawasan pegunungan bersejarah lengkap dengan patung dewi Rengganis

di puncaknya. Bagian yang aku suka di Argopuro adalah Cikasur. Savana datar

luas dan dingin, tapi dekat air dan selada airnya lezat tiada dua. 

 

Darimana datangnya Banjir

sejak reformasi, kawasan diatas mengalami penjarahan kayu serius, kawasan

tersebut termasuk Cagar alam gunung Abang dan hutan lindung  sekitarnya.

Tak hanya dikawasan ini. Hampir semua hutan jawa mengalaminya. Apa

penyebabnya ?  

 

Ada beberapa hal, PERTAMA, paradigma memposisikan kawasan-kawasan

penyangga, baik yang berbentuk hutan lindung hingga Taman Nasional sebagai

kawasan yang tidak bernilai ekonomis bagi pengurus negara. Sehingga tak

perlu diperhatikan dan diurus dengan baik dan adil. Akibatnya kawasan “yang

dilindungi” ini seolah ada tetapi tidak dikelola dengan serius untuk

mendukung fungsinya. Kangan heran jika banyak warga tepi hutan banyak yang

hidup dibawah garis kemiskinan. Misalnya dengan pemilikan lahan rata-rata

dibawah 0,2 ha di sekiutar kawasan Taman Nasional meru betiri, sepertinya

tidak berbeda dengan kawasan lainnya.  Bahkan sebagaian besar adalah buruh

tani. Akhirnya kawasan-kawasan ini diabaikan. Malah jika mungkin,

kawasan-kawasan ini dialih fungsi agar punya “nilai ekonomis”. Ingat

bagaimana rencana alih fungsi kawasan Taman nasional meru betiri menjadi

tambang emas skala besar, rencana pembangunan infrastruktur jalan lintas

selatan Jatim dan rencana-recana raksasa lainnya.  Tanpa peduli daya dukung

lingkungan kawasan. Dilain pihak, kawasan-kawasan ini dijadikan dagangan

untuk mendukung berbagai “dagangan global” tentang “kepedulian ” terhadap

pelestarian ekosistem dan kawasan. Apa yang terjadi ? program-program

instan-lah yang banyak dipilih untuk mempopulerkan sebuah kawasan menjadi

lebih dikenal nama dan fasilitas yang disediakannya dibanding dikenal dan

disadari publik fungsi kawasan bersangkutan ataupun program bagaimana bisa

lebih mensejahterakan masyarakat sekitarnya. KEDUA, Ketidak adilan terhadap

rakyat sekitar kawasan penyangga ekosistem,  yang dilarang mengakses

kawasan tersebut sejak berstatus dilindungi, bahkan untuk sekedar mencari

sayuran ataupun bambu dihutan. Sementara para cukong kayu dan aparat

pengelola kawasan hingga kepolisian dan tentara berpesta pora mengeluarkan

kayu-kayu dari kawasan. Saat reformasi tiba, rakyat dan oknum aparat pun

merasa bebas dan “bisa balas dendam”. 

 

Sayangnya kebebasan ini kebablasan. Termasuk merasa bebas ramai-ramai

menebang kayu dan menanami tanahnya dengan tanaman semusim. Untuk apa ?

Untuk membiayai gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan  orang kota,

televisi, radio dan perilaku pejabat serta selebritis negeri ini (termasuk

selebritis NGO lho). Mulai dari membeli sepeda motor, televisi hingga

pelesir ke kota untuk melihat “kemajuan”. Ini bisa di ibaratkan menggali

beramai-ramai kubur sendiri.  

 

Dalam 4 tahun terakhir, sektidaknya hutan di Jember menyusut hingga 26%.

Kawasan cagar Alam gunung abang dan sekitar pegunungan Hyang memiliki

batuan dengan pelapukan tinggi dengan formasi batuan dengan tingkat

kekuatan tanah dan batuan rendah. sehingga kehadiran hutan peranan sangat

penting pada kawasan ini untuk menyeimbangkan proses pelapukan. Kondisi

tanah yang rentan, pada kawasan-kawasan dengan kelerengan tinggi dan

tutupan hutan berkurang akan beresiko bencana saat tak mampu menahan

tingginya intensitas dan curah hujan yang datang.  

 

Penjarahan hutan di era reformasi disekitar Pegunungan Hyang dan CA Gunung

abang ini bahkan sempat di dokumentasikan oleh salah seorang dosen UNEJ.

Serombongan tim Dephut dari propinsi , juga pernah datang melakukan

investigasinya pada tahun 2003. telah diketahui kawasan tersebut hutannya

rusak Tapi tidak dilakukan tindak lanjut apapun. Mungkin karena tidak ada

proyek. tidak ada anggaran, kawasan penyangga, kawasan kering perhatian.

Kelompok PA Faperta Unej, MAPENSA, bahkan menemukan penyusutan

keanekaragaman burung sejak tiga tahun terakhir dikawasan pegunungan

Argopuro  Hyang , setidaknya hingga 30 jenis setiap tahunnya. Angka yang

lumayan tinggi. Burung adalah indikator keamanan dan kenyamanan suatu

wilayah. Important Bird Area (IBA), merupakan kawasan-kawasan kaya jenis

dan jumlah burung yang umumnya berada dikawasan-kawasan ketinggian. salah

satunya Argopuro. berkurangnya jenis burung menunjukkan ada masalah dalam

jaring-jaring ekosistem dan rantai makanan dikawasan tersebut, atau dengan

kalimat pendek kawasan tersebut sedang mengalami gangguan serius, yaitu

perubahan habitat, terjadinya alih fungsi hutan.  

 

Kawasan paling berhutan di Jawa

Jawa timur merupakan bagian pulau Jawa yang hutannya masih luas dan memilik

kawasan konservasi terbanyak, diantaranya lima buah Taman Nasional. Kawasan

Jember dan Banyuwangi  adalah dua kabupaten yang kawasan hutannya paling

banyak di Jatim, sekitar 25%, dari 30% yang disyaratkan. Yang harus digaris

bawahi, kawasan-kawasan yang paling berhutan ini ternyata juga dikunjungi

bencana. Tanggal 20 desember 2005, di Banyuwangi, juga telah terjadi banjir

di Grajagan akibat rusaknya hutan dikawasan hutan lindung Grajagan yang

dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi selatan, 2 orang meninggal , puluhan

rumah rusak dan korbannya  mencapai 130 KK , mulai  yang rumahnya terendam

hingga warga yang megalami sakit kulit akibat lingkungan banjir.

Menyusul  berikutnya tragedi di Jember.  

 

Sepertinya tidak tepat lagi kita menyebutnya sebagai bencana alam, seolah

alam iseng menyebabkan bencana, alam lah yang salah. jika alam yang salah

biasanya Tuhan yang disalahkan. lebih tepat  menyebutnya bencana ekologi.

Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak beres dan dibiarkan. 

 

Irionisnya, pengurus negara dan rakyat menyikapinya seolah ini adalah

kejadian baru, dengan ritual yang sama. Kunjungan pejabat, penggalangan

bantuan dan tayangan derita di media. Padahal bencana banjir, sepaket

dengan longsor dan kekeringan  berlangganan setiap tahun dan telah

meningkat sejak 5 tahun terakhir. Kawasan dengan intensitas banjir terbesar

adalah Jawa tengah dan Jawa Barat. menurut data Satkorlak, 2003, kejadian

banjir di Indonesia meningkat menjadi 236 kejadian banjir pada  26 propinsi

di Indonesia pada tahun 2003, dimana 20 kejadian diantaranya terjadi di

Jawa tengah dan 12 lainnya di Jateng dan 9 kejadian di Jatim. Angka

tertinggi di di Jawa. 

 

Hutan-hutan di Jawa tengah dan Jawa barat sesungguhnya telah terlebih

dahulu di jarah, atau terlebih dahulu habis. Jawa timur sepertinya akan

menyusul menjadi langganan bencana banjir menyamai dua tetangganya yang

lain. Setidaknya dengan rusaknya kawasan hutan produksi dan hutan rimba di

barat pulau Jawa, maka Jawa timur yang kondisi hutannya masih “lebih baik”

akan berpotensi menjadi pemasok kayu bagi industri lokal maupun luar daerah

di pulau Jawa, baik dengan cara legal maupun  ilegal. Jika dibandingkan

dengan potert pemenuhan kayu di Indonesia, tentu cara ilegal yang paling

banyak. Saat ini hanya 40% kebutuhan kayu yang mampu di pasok dari sumber

kayu legal oleh hutan Indonesia.  Kawan-kawan yang bekerja diisu hutan dan

gank Bogor pasti lebih tahu mengenai hal ini . 

 

Mungkin, pengurus negara terlanjur mencintai banjir . Saat bencana banjir

datang, orang akan lupa terhadap perilaku bobrok pengurus negara, mulai

korupsi sampai dampak kenaikan BBM, naiknya harga barang-barang dan antrian

BLT. Apalagi banjir datang, bisa berarti : Belanja. waktunya menghabiskan

anggaran bencana di APBN hingga APBD, serta………… yang paling

menyenangkan : memobilisasi bantuan. Setidaknya, korupsi akan menemukan

peluang-peluang baru ditengah-tengah kesibukan pengelolaan bantuan bencana.

Pasca bencana, akan memungkinkan lahirnya proyek-proyek baru penanganan

paska bencana, mulai pembangunan fisik hingga pelayanan psikologis . Proyek

baru berarti lahan korupsi baru, sampai musim kemarau datang, jika ada

bencana kekeringan dan paceklik, …….klik, ……..klik …..maka proyek

baru akan datang. 

 

Duh….. pengurus negeri ini telah kecanduan banjir.

   

 

Mae,  Jakarta, 8 januari 2006

Posted by ecosisters at 09:06:09 | Permalink | No Comments »

Friday, December 2, 2005

ecosisters gathering

Akhirnya…ecosisters ngadain pertemuan juga…setelah pertemuan awal diadain lebih dari setahun yang lalu ;p Lumayan banyak juga yang ikut, ada 11 perempuan dari sekitar 25-an yang terdaftar di mailing list-nya (waktu itu…). Pertemuannya diadain di daerah puncak, di tengah-tengah kebun teh. Dingin? So pasti….untung ada bandrek dkk yang setia menghangatkan perempuan-perempuan yang kedinginan (yah…ngak ada l*k* bandrek pun jadi…husss!!!).

Mungkin para mamang yg setia menjalankan tugas melayani makan-minum dan jaga-jaga ini heran banget ngeliat ulah para perempuan yang memang gahar-gahar. Berkali-kali dapur mereka disatroni untuk nanyain apakah makanannya udah siap…teroris banget gak sih??? Belum lagi waktu-waktu coffee-break…pisang goreng dan tales yang disuguhkan –seberapa banyak pun– langsung licin dalam sekejap.

Eniwei, acara kumpul kali ini bisa dikatakan sukses lah. Walaupun gahar, kita-kita tetap ceria dan produktif (bukan tiba2 pada hamil lho…mentang2 diskusi di milis lagi ngomongin alat reproduksi ;p). Diskusi yg berakhir pada malam pertama itu menghasilkan beberapa kesepakatan dan komitmen-komitmen kerja dari para sisters. Mantap!! Te-O-Pe!!

Sesi malam diawali dengan makan malem yang sumpah enak buanngggeeeetttsss…padahal kita cuman makan nasi liwet pake teri. Terus, sebagian sisters melanjutkan dengan berteriak-teriak di tengah malam gulita…’kali jangkrik aje minder. Sementara sebagian yang lain menjaga kesehatannya dan tidur lebih awal (sori ya friends…kalian gak terganggu kan? blink-blink ;D).

Well, in one word, acara gathering kali ini pokoknya FUN deh…nyesel kan yang gak ikut? Kapan-kapan ya kita adain lagi…(“,)yy.

Posted by ecosisters at 10:21:22 | Permalink | No Comments »

Wednesday, October 5, 2005

blink

Beberapa waktu yang lalu, gue menyelesaikan mbaca bukunya Malcolm Gladwell, judulnya Blink (berkedip–kedipan). Buku ini sedikit banyak agak meruntuhkan semua teori yang menyatakan bahwa data dan informasi yang lengkap, komprehensif dll lah yang akan menentukan keakuratan pembuatan suatu keputusan.

Ternyata nggak demikian juga tuh faktanya. Seperti dipaparkan dalam buku ini, banyak keputusan akurat diambil hanya dalam hitungan sekedipan mata.

Kenapa demikian? Mungkin bisa dilihat beberapa statistik berikut…ternyata:

  • 99% proses berpikir adalah proses tidak sadar
  • Hanya 1% dari seluruh sel otak yang melakukan proses berpikir secara sadar
  • 82% komunikasi di dalam kelas-kelas belajar adalah komunikasi non-verbal
  • 90% proses pembelajaran adalah proses visual
  • 85% bagian otak terkait dengan pemrosesan visual

Mungkin di kalangan kita-kita fenomena ini sering disebut intuisi. Nah menurut Blink intuisi ini adalah sebenarnya juga proses berpikir….tapi proses berpikir tidak sadar (subconscious thinking). Mungkin ini pula yang mendasari dikembangkannya EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional dan tidak hanya IQ (Intelligent Quotient). Dan seperti pendapat Albert Einstein, imagination is more important than intelligent. Tapi jangan keseringan berimajinasi, nanti nggak bisa membedakan mana realita mana khayalan ;P ….[yaya]

Posted by ecosisters at 06:56:22 | Permalink | No Comments »

Thursday, September 29, 2005

konservasi yang aneh

Saya lagi baca satu buku tentang community based conservation. Ada satu ‘case study’ yang ingin saya kutip untuk di share… semoga bermanfaat.

Health Consequences of Conservation

A large conservation organization on a small Pacific island was concerned to protect coral reefs. Its strategy to create a marine protected area where the harvesting of certain species was prohibited. The protected area was set up and functioned well for a number of years before a team evaluate the effort. By chance, they went to local clinic and looked at the health records. They were astonished to find a decline in birth weights and an increase in case of malnutrition among girls between the ages three and five years. The health worker reported that the intensive logging on the island had led to a steep decline in soil fertility and thus harvest failures over the past few years. Further inquiries led to the finding that since reef fishing and shellfish gathering had been restricted, fish were given primarly to senior people and eaten by others only on feast day.

Kalo udah gini, konservasi ya kudu dibalikin ke masyarakat kali ya….. (Ijul)

Posted by ecosisters at 10:01:47 | Permalink | No Comments »

Wednesday, September 28, 2005

monalisa smile?

Pada tanggal 17-18 September 2005 yang lalu, beberapa personel ecosisters yang kebetulan ‘lulusan’ training fasilitasi INSPIRIT bekerjasama dengan WALHI dan Keluarga Mahasiswa ITB mengadakan training ‘menjadi pembaru sosial’ bagi anak-anak ITB (Institut Teknologi Bandung).

Training ini menjadi pengalaman yang menarik untuk gue, ijul, ai, agi (bersama farid, iwan dan wilda dari WALHI) karena ini adalah debut kami melakukan training beneran, apalagi ini diperuntukkan bagi mahasiswa. Dalam training yang menganut mazhab ‘fasilitasi dinamik’ ini, kami mengaplikasikan perkawinan otak kiri (yang rasional) dan otak kanan (yang kreatif) sehingga training ini jadi sesuatu yang fun tapi juga tidak kehilangan substansi pentingnya. Para mahasiswa diperkenalkan secara langsung dengan konsep tentang kemiskinan yang mungkin selama ini jadi fenomena yang dilewatkan begitu saja (mereka melihat setiap hari tapi penglihatan itu nggak ada maknanya buat mereka). Dari lembar evaluasi yang mereka isi, hampir seluruhnya merasa puas dan mendapatakan manfaat dari training ini. Alhamdulillah!

Yang cukup menarik pula, ketika ditanyakan ingin menjadi apa mereka 15 tahun mendatang, sebagian besar peserta perempuannya menggambarkan ingin menjadi ibu rumah tangga yang ideal –punya suami dan anak, hidup nyaman dan secure di rumah berumput hijau. Hmmmmm, jadi ingat film Monalisa Smile yang diperani Julia Roberts. Di film itu –yang mengambil setting Amerika Serikat di tahun 60-an– Julia Roberts yang menjadi guru di sekolah putri berasrama harus melawan mainstream sebagian besar orang tua yang menginginkan anak-anak perempuannya jadi istri ideal –pandai melayani suami, tinggal di rumah bercat putih dengan rumput hijau, bersarung tangan putih dengan sasakan rambut yang sempurna. Padahal, banyak siswa cemerlang yang berpotensi untuk mengubah dunia dengan talenta mereka masing-masing.

Fenomena di ITB tadi kemudian menjadi bahan diskusi kami berempat. Ada apa dengan ‘adik-adik’ kita? Mungkin tidak ada yang salah dengan cita-cita itu…tapi tak adakah keinginan lain mereka? Atau, hanya segitukah eksplorasi mereka atas potensi yang mereka miliki?

Ada comment? [yaya]

Posted by ecosisters at 08:14:13 | Permalink | No Comments »