Saturday, March 11, 2006

about yoga (dari rainny)

Y O G A

“Bagaikan bulan dalam tempayan air. Seperti itulah Tuhan menampakkan dirinya kepada orang yang melakukan Yoga.” (Paramhansa Yogananda)

A. Pengertian

Yoga berasal dari bahasa Sanskrta ‘Yuj’berarti “menghubungkan” atau “mempersatukan”. Yoga adalah suatu teknik untuk menghubungkan kesadaran manusia dengan Ilahi. Pernyataan ini bukan berarti “penyatuan” Tuhan dan manusia secara fisika, namun kesadaran. Sebenarnya bukannya Tuhan yang terpisah dari manusia, tapi manusialah yang memisahkan diri. Ketidaktahuan (avidya) yang menjadi sebab terjadinya pemisahan antara manusia dan Tuhan. Jenis penyatuan ini sulit untuk diwujudkan. Namun, tiap usaha walaupun kecil tetap ada manfaatnya. Penyatuan ini seperti sungai menuju ke samudra yang kemudian lenyap meninggalkan nama dan bentuknya.

Begitu pula seseorang yang menyatu dengan yang Ilahi..Yoga bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan agama atau kepercayaan tertentu. Yoga adalah Yoga. Yoga merupakan suatu satu seni spiritual yang lebih tua dari agama apa pun di dunia, termasuk agama Hindu dan Buddha.

Para Yogi (praktisi yoga) sudah terdapat di India jauh sebelum jaman Veda, jaman berdirinya agama Hindu. Namun harus diakui, bahwa Yoga sekarang merupakan warisan dari budaya India. Maka istilah-istilah dalam Yoga mempunyai banyak kesamaan dengan istilah-istilah dari agama yang lahir di India. Oleh karenanya, bila ingin mendalami Yoga, harus tidak keberatan menerima istilah-istilah sanskrta. Sebagaimana kita tidak pernah keberatan menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris untuk mendalami ilmu Ekonomi. Sampai saat ini, praktisi yoga tidak hanya pemeluk Hindu saja, namun dari berbagai agama dan kepercayaan. Yoga adalah milik dunia,
tanpa ada ikatan agama maupun tradisi. Sebagaimana sinar matahari, semua berhak berjemur dibawahnya.

Bila kita mengenal Kungfu dan yang semacamnya sebagai sebagai suatu seni untuk membela diri, maka Yoga merupakan suatu seni untuk mengenal diri. Mengenal diri sendiri adalah syarat dalam spiritual. “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”. Sebagai seni spiritual
(Sadhana), maka gerakan Yoga tidak seperti senam biasa, harus berlandaskan moralitas, barulah diperoleh kesadaran spiritual, sembuh dari penyakit, kebangkitan kundalini, dan penghapusan karma. Sebagaimana seni bela diri, berlatih Yoga juga memerlukan disiplin yang keras. Tidak ada
dispensasi untuk memperpendek jalan. Namun, berlatih Yoga tidak ada istilah terlambat untuk dimulai. Apakah seorang anak - orang tua, wanita - pria, cacat - sehat, terpelajar - buta huruf, bahkan seorang yang suci atau pendosa pun dengan kesungguhan hati semuanya dapat berlatih Yoga.

Latihan yoga tidak harus meninggalkan keluarga dan menyepi di hutan. Seorang Yogi (praktisi yoga) bisa saja berada di tengah keramaian dunia. Seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, tapi tidak tercemar oleh lumpur.

Teknik yoga merupakan explorasi terhadap diri sendiri, sehingga dapat memaksimalkan segenap potensi diri yang belum dikenali. Tubuh manusia merupakan perangkat komputer yang super canggih sekaligus pesawat yang dapat membawa dirinya menjelajah ke seluruh pelosok penjuru bumi dan langit Yoga membawa manusia untuk melampaui yang fana, baik yang tampak
maupun tidak tampak. Yoga menuntut pengalaman langsung. Tidak hanya berkutat pada pengetahuan saja, sebagaimana kaum cendekiawan, berolah pikir dan berdebat tentang Tuhan, alam dan manusia, tapi tidak pernah sampai pada pengalaman yang lebih jauh tentang alam, manusia, dan Tuhan.

Bahkan seringkali justru terjerumus pada pen-dewa-an akal dan alam, kemudian mengesampingkan Tuhan. Mereka tidak memiliki pengalaman rohani, karena tidak pernah menterjemahkan pengetahuannya dalam hidup sehari-hari. Menguasai berbagai kitab suci, tapi tidak memahaminya. Memahaminya tapi tidak melaksanakan. Di sinilah perbedaan antara para Yogi dengan para cendekiawan.

 

B. Jenis-Jenis Yoga

Di bumi ini ada ratusan bahkan ribuan macam Yoga. Secara garis besar dapat dibedakan dalam empat macam, yaitu Jnana Yoga, Bhakti Yoga, Karma Yoga, dan Raja Yoga. Adapun Mantra Yoga, Japa Yoga, Hatha Yoga, Kundalini Yoga, dll. dikatagorikan sebagai Yoga hasil dari pengembangan. Namun semua perbedaan terjadi hanya pada penekanannya saja, adapun tujuannya sama.

Jnana Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pengetahuan. Praktisi yoga ini beranggapan bahwa kebodohan (avidya) merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan dan kelalaian. Terhapusnya kebodohan, maka terhapus pula kemiskinan, ketidakadilan, kesewenangan, serta kerusakan alam semesta. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya.

Karma Yoga, merupakan yoga yang dilakukan penekanan pada tindakan. Para praktisinya selalu memperhatikan segala sesuatu yang diperbuatnya, sehingga tidak menimbulkan karma yang membawa pada penderitaan. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi masalah kehidupan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma yang telah dibuatnya, maka
harus diterima dan dihadapi sebagai pendidikan dan kasih sayang Ilahi.

Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasif, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktif dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan. Praktisi Karma Yoga tidak pernah melarikan diri dari masalah. Melarikan diri bukan solusi, tapi
justru menimbun masalah dan membuat masalah baru. Masalah tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau ataupun tidak, suka ataupun terpaksa, semua harus dihadapi.

Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.

Bhakti Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pada bakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bhakti bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua ciptaanNYA. Mencintai ciptaan merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta itu sendiri. Cinta seorang Bhakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin maupun yang kaya, yang indah maupun yang buruk, yang pintar maupun yang bodoh, yang beriman maupun yang kafir.

Raja Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan menekankan pada pengendalian pikiran. Dengan mengendalikan pikiran, maka terkendali pula semua indra-indra manusia. Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Perkembangan kemudian, hanya Raja

Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah.

C. Bagian-Bagian Yoga

Patanjali, seorang Yogi, menerangkan bahwa yoga memiliki 8 bagian yang tidak terpisahkan. Bagian-bagian yoga tersebut tidak dapat dipisahkan, sebagaimana bagian tubuh manusia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan. Kedelapan bagian itu adalah :
1. Yama (menjauhi larangan),
2. Niyama (mentaati perintah),
3. Asanas (sikap-sikap badan),
Asanas adalah pengaturan sikap-sikap tubuh. Dalam perkembangannya menjadi sebuah teknik yang disebut Hatha Yoga, yoga yang mempelajari berbagai postur-postur untuk memperbaiki sistem tubuh. Seorang praktisi Hatha Yoga melakukan berbagai postur tubuh untuk merangsang berbagai kelenjar dan syaraf, selain untuk keseimbangan tubuh dan menjaga keremajaan seluruh persendiannya. Asanas tidak hanya berarti sikap yang nyaman dalam postur-postur tubuh saja, tapi secara luas adalah pola hidup yang nyaman, yaitu pola hidup yang seimbang. Makan tidak berlebihan, puasa juga tidak berlebihan. Mencintai tidak berlebihan,-membenci juga tidak berlebihan, dan seterusnya. Rasa nyaman ini harus permanen-tidak temporer.
4. Pranayama (pengaturan prana),
5. Pratyahara (pengaturan indra),
6. Dharana (konsentrasi),
7. Dhyana (meditasi),
8. Samadhi (keseimbangan total).

Kedelapan bagian tersebut adalah satu kesatuan yang dikenal sebagai Astanga Yoga. Telah dijelaskan di atas bahwa Yoga adalah sadhana (disiplin spiritual), maka pondasinya adalah moralitas (Yama dan Niyama). Tanpa moralitas tidak dapat disebut sebagai Yoga.

Kemampuan supernormal (shakti) bukanlah tujuan yoga. Banyak sekali kemampuan supernormal dapat diperoleh dengan teknik yoga. Namun tanpa didukung dengan moralitas yang baik, maka kemampuan-kemampuan tersebut tidak akan menunjang peningkatan spiritual para praktisi yoga. Keinginan untuk memperoleh kemampuan supernormal bukanlah sesuatu yang salah, namun keterikatan itulah yang tidak dapat dibenarkan. Bagi pemula seringkali kemampuan ini menjadi obsesi sehingga menghambat perkembangannya. Adapun bagi praktisi yang sudah memperoleh seringkali terjerumus dalam penyalahgunaan daya super tersebut sehingga membuat semakin jauh dari tujuan spiritual. Tanpa ditunjang dengan moralitas yang baik, kemampuan supernormal justru memperburuk kondisi praktisi. Perlu diingat bahwa segala perbuatan merupakan “sebab” yang akan melahirkan “akibat”.

Rsi Patanjali menetapkan Yama dan Niyama sebagai dasar moralitas kehidupan spiritual. Aturan ini dibuat untuk para praktisi yoga supaya tetap berada dalam jalur spiritual yang benar. Dan hendaknya diingat bahwa moralitas bukan merupakan puncak tujuan hidup kerohanian, namun hanyalah merupakan suatu perangkat. Walau demikian moralitas harus digariskan sedemikian rupa sehingga mampu melengkapi kehidupan manusia dengan penuh “keserasian” dan “keindahan” untuk bergerak maju di dalam menempuh jalan kerohanian. Yama dan Niyama bukan suatu perangkat hukum yang bermakna perintah.

Yama dan Niyama adalah suatu nasehat yang tidak menekankan pada hukuman bila melanggar,
namun menekankan pada keuntungan bila dilaksanakan.

Demikian sekilas penjelasan tentang 8 bagian yoga yang diajarkan oleh Patanjali. Kedelapan bagian tersebut berkaitan-tidak bisa dipisahkan. Pelaksanaan dari 8 bagian tersebut itu-lah yang disebut yoga dalam arti yang sesungguhnya. Ini perlu dijelaskan karena bagi masyarakat Indonesia, yoga seringkali disalahartikan sebagai “akrobat” atau semacam “praktek-praktek klenik”, dan lain sebagainya.

I. Kelenjar-kelenjar penting dalam tubuh

Saling ketergantungan antara kelenjar dan emosi dihubungkan oleh kelenjar endokrin, yang memimpin simponi tubuh yang rumit dengan mengeluarkan cairan hormon ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini mempunyai bermacam-macam efek tidak hanya terhadap fungsi tubuh saja, seperti pertumbuhan, pencernaan, energi, seks, dan lain-lain, melainkan juga
berpengaruh terhadap pikiran. Kadar hormon memiliki efek yang bermacam-macam terhadap suasana hati, temperamen dan efisiensi mental. Kelebihan dan kekurangan hormon dapat menyebabkan gangguan emosi dan mental, yang merusak kesehatan dan ketenangan pikiran. Kelebihan hormon yang berasal dari kelenjar tiroid, misalnya akan membuat orang yang sangat normal menjadi gugup dan mudah marah. Pada saat ovulasi seorang wanita kelihatan optimis dan penuh percaya diri, yaitu pada saat hormon estrogen dan progresteron berkadar tinggi, akan tetapi wanita tersebut akan menjadi was-was dan pemarah ketika kadar hormonnya menurun, yaitu pada saat sebelum dan selama menstruasi.

Ada interaksi yang dinamis antara emosi, hormon dan penyakit - antara tubuh dan pikiran.
Hubungan di atas telah lama dirasakan oleh para yogi yang mengembangkan sistem latihan untuk memberikan tekanan yang spesifik pada bermacam-macam kelenjar endokrin.
a. Kelenjar Pineal
b. Kelenjar Pituitari
c. Kelenjar Tiroid dan Paratiroid
d. Kelenjar Timus
e. Kelenjar Adrenal
f. Kelenjar Pankreas
g. Kelenjar Gonads

II. Efek Asanas

Seluruh jaringan, sel, organ tubuh manusia dipengaruhi oleh hormon, pertumbuhan yang wajar dan fungsi bermacam-macam bagian tubuh hanya mungkin berjalan jika ada keseimbangan pengeluaran hormon, ketidakseimbangan sedikit saja dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit.

Gerakan asanas membuat produksi hormon dari berbagai kelenjar menjadi seimbang. Posisi menekuk dan meregang dari gerakan asanas yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, memberikan tekanan yang khusus dan kontinyu pada kelenjar-kelenjar, sehingga akan merangsang kelenjar dengan berbagai cara, mengatur produksi kelenjar dan akhirnya akan mengontrol emosi. Jika keseimbangan kelenjar teratasi, pikiran menjadi bebas dan ganggunan emosi serta ketenangan batin yang sempurna akan tercapai.

 

Posted by ecosisters at 08:35:21 | Permalink | Comments (2)

Thursday, January 19, 2006

BODYSPACE

Sebagai perempuan, apalagi perempuan aktivis, mau gak mau kita harus lebih adil  memperlakukan badan kita. Bagaimanapun Kita tidak akan bisa mengekspresikan ideologi , cinta , keyakinan saat kita sakit.

 

Apalagi para perempuan aktivis yang saya kenal, suka gelap mata ama kekuatan badannya. Seolah-olah mereka punya kesaktian warisan nenek moyang….. Padahal mereka “hanya” perempuan hebat dan spesial  dengan kekuatan terbatas”.

 Sepertinya kita  harus menyediakan ruang untuk membuat masalah-masalah tubuh kita dibicarakan, dipikirkan bersama, memberikan ruang “bernafas” buat tubuh kita, saya ingin menamakannya “BODY SPACE” . Bagian ini termasuk bagaimana kita membicarakan urusan reproduksi dan hubungan untim. Saya jadi ingat buku “Monolog Vagina ” karya Eve Ensler. Perempuan cenderung menghindari bahkan mengabaikan untuk saling berbagi cerita urusan “body space” nya. Saya ingin mengajak kita merubah itu.  itulah mengapa ada  ecosister,  tak ada keraguan menyampaikan apa masalah tubuhnya.  Banyak yang jago diantara kita, ada yang jago asma, jago sakit menstruasi, jago sari awan, dari kejagoan mereka kita bisa saling membagikan pengalaman.  

Sehingga kita dengan sadar memilih apa yang di asupkan kebadan kita tiap harinya, termasuk asupan  “batin” ( ceileeee…. dalem neh). Kenapa tidak rutin makan baso atau saos tomat merah… rah,  atau kenapa menggunakan produk A atau produk B.  Bukan didominasi Imaj agar kita “cantik ” agar “enak” atau agar “mahal dan bermerk”  ,  tetapi agar kita sehat.  

 Setidaknya kita akan mencoba untuk tidak menjadi “perempuan biasa”. Tak lagi menjadi konsumen pasar yang berbasiskan iklan televisi, papan reklame ataupun radio. Tetapi karena kebutuhan untuk sehat dan bugar.  

 BODY SPACE dalah ruang ecosisters untuk menshare tips sehat dan membangun “health knowledge” . Mari bergabung.

Posted by ecosisters at 05:13:34 | Permalink | Comments (2)

Menghindari kanker Payudara

Ingin terhindar dari Kanker Payudara, lakukan 7 (tujuh) tips berikut : 
 
1.Hindari makan BAKSO terlalu sering, karena menurut ahli terapi yang pernah ku kunjungi akan memicu kanker pada perempuan akibat kandungan BORAK dalam proses pembuatan BAKSO …………… (Thanks’s untuk kiriman  Entin)
 

2.Jika sudah terdapat gejala kanker cobalah banting setir menjadi  VEGETARIAN dan TIDAK MEMAKAN masakan yang mengandung MSG (baca vetsin).

3.Jika sudah terkena kanker coba cari alternatif selain pengangkatan (operasi), karena operasi akan menghilangkan sel-sel di payudara itu sendiri.

4. Puting susu rajin dibersihkan dengan baby oil serta memakai cotton bud. (Jangan pakai sikat ya, nanti yang punya bayi, bayinya pada protes, putingnya  berasa berasa pasta gigi)

5.Untuk kebersihan VAGINA gunakan air rebusan daun sereh, seminggu sekali. (air rebusannya didinginkan dulu yeee…, sirihnya juga jangan banyak-banyak, nanti vaginanya jadi ijo…) 

6.Jika KEPUTIHAN jangan digaruk- garuk apalagi menggunakan sisir, coba pakai air rebusan sereh tadi jika parah,serehnya dimemarkan dulu sebelum direbus. (yang beber neh… garuk pakai sisir?)

7.Baiknya jangan menggunakan pembersih VAGINA yang banyak beredar, karena akan menghilangkan PH alami di Vagina itu sendiri. Tingkat keasaman alami di Vagina sebenarnya membantu membunuh bakteri ataupun jamur.


Posted by ecosisters at 04:49:09 | Permalink | No Comments »

Friday, January 13, 2006

Banjir itu candu

delapan… tiga, dua , satu ……..Byuuur :

Tenang saudara-saudara, tenang….banjir sudah datang

(iklan rokok putih A Mild)

  

Aku bukan perokok, dan tidak suka asap rokok karena suka bikin asmaku kambuh, tapi untuk iklan yang satu ini, aku mau angkat jempol tangan hingga kaki Dari waktu-kewaktu iklan A Mild makin cerdas. Dari mulai nyentil pendidikan,  penerangan hingga banjir. Aku rasa kalian setuju jika iklan ini adalah paling cerdas  di televisi saat ini. Iklan ini dengan tajam menggambarkan banyak hal, pemerintah yang mati rasa, rakyatnya yang tak berdaya dan dipaksa beradaptasi terus dengan bencana dan banjir, dan mau lagi  Sampai tidak tahu bagaimana dan siapa yang harus bertanggung jawab atau bersuka rela mengurai benang kusut bencana banjir yang terjadi : …….TANYA KENAPA? 

iklan ini mengantarku pada satu kejadian : bencana banjir di Jember. Di

Kotaku, setidaknya sekitar 40 km dari rumahku. Nama tempatnya desa Kemiri,

kecamatan Panti. Terakhir dikabarkan Korban meninggal sedikitnya 107 orang,

dan ribuan mengungsi. Bencana datang menjelang malam, setelah hujan datang

tak berhenti. ratusan rumah, pasar , masjid dan lainnya rata terbawa arus

sungai bersama gelondongan kayu baik kayu lapuk tua hingga baru. memang tak

sedahsyat bencana Bohorok, dengan kayu yang gelondongan se gedong-gedong itu.  

 

Ironisnya, pejabat negara ini secara berjamaah , mulai Bupati hingga

presiden menyatakan bahwa bencana datang karena kehendak Allah SWT,

penyebabnya hujan yang terus menerus, hutannya tidak ada yang gundul

menurut  foto satelit. Masih utuh dan bagus. Ah….. aku jadi tak habis

bikir, sejak kapan Tuhan suka iseng mengirimkan bencana tanpa alasan,

bahkan tanpa tanda. Apalagi dengan kondisi lahan kawasan hulu yang rusak

berat. Maaf Tuhan, …….. yang paling aman dilakukan oleh pengurus negara

ini memang menyalahkan Mu. Entah Kau suka atau tidak ! 

 

Waktu sekolah dulu,  aku sempat menelusuri sungai kaliputih (sungai yang

bajir tersebut), bersama Jack, adikku di MAPENSA, kami bersepeda

motor  hingga jalan kaki menyelusuri sungai kali putih sekitar tahun 1999.

Waktu itu kami mencari tahu mengapa air sungai menjadi sangat putih

berpasir dan berbau seperti belerang busuk, selama beberapa bulan. Sumpah !

daerah sepanjang tepi sungai sangat indah dengan tebing-tebing tingginya.

Kami menjumpai hewan-hewan yang aneh, katak aneh berwarna hijau terang dan

bisa terbang, hingga puluhan pacet (lintah yang hidup di darat) penghisap

darah, air terjun dan beberapa bagian pasir hisap dipinggiran sungai.

Sayangnya kami tak bisa mencapai bagian paling hulu sungai, peralatan tidak

memadai. Kawasan huluuuuuu sungai ini adalah kawasan pegunungan hyang,

Argopuro. Tempat  pecinta alam bermain , mengamati burung hingga melakukan

Diklat. Kawasan pegunungan bersejarah lengkap dengan patung dewi Rengganis

di puncaknya. Bagian yang aku suka di Argopuro adalah Cikasur. Savana datar

luas dan dingin, tapi dekat air dan selada airnya lezat tiada dua. 

 

Darimana datangnya Banjir

sejak reformasi, kawasan diatas mengalami penjarahan kayu serius, kawasan

tersebut termasuk Cagar alam gunung Abang dan hutan lindung  sekitarnya.

Tak hanya dikawasan ini. Hampir semua hutan jawa mengalaminya. Apa

penyebabnya ?  

 

Ada beberapa hal, PERTAMA, paradigma memposisikan kawasan-kawasan

penyangga, baik yang berbentuk hutan lindung hingga Taman Nasional sebagai

kawasan yang tidak bernilai ekonomis bagi pengurus negara. Sehingga tak

perlu diperhatikan dan diurus dengan baik dan adil. Akibatnya kawasan “yang

dilindungi” ini seolah ada tetapi tidak dikelola dengan serius untuk

mendukung fungsinya. Kangan heran jika banyak warga tepi hutan banyak yang

hidup dibawah garis kemiskinan. Misalnya dengan pemilikan lahan rata-rata

dibawah 0,2 ha di sekiutar kawasan Taman Nasional meru betiri, sepertinya

tidak berbeda dengan kawasan lainnya.  Bahkan sebagaian besar adalah buruh

tani. Akhirnya kawasan-kawasan ini diabaikan. Malah jika mungkin,

kawasan-kawasan ini dialih fungsi agar punya “nilai ekonomis”. Ingat

bagaimana rencana alih fungsi kawasan Taman nasional meru betiri menjadi

tambang emas skala besar, rencana pembangunan infrastruktur jalan lintas

selatan Jatim dan rencana-recana raksasa lainnya.  Tanpa peduli daya dukung

lingkungan kawasan. Dilain pihak, kawasan-kawasan ini dijadikan dagangan

untuk mendukung berbagai “dagangan global” tentang “kepedulian ” terhadap

pelestarian ekosistem dan kawasan. Apa yang terjadi ? program-program

instan-lah yang banyak dipilih untuk mempopulerkan sebuah kawasan menjadi

lebih dikenal nama dan fasilitas yang disediakannya dibanding dikenal dan

disadari publik fungsi kawasan bersangkutan ataupun program bagaimana bisa

lebih mensejahterakan masyarakat sekitarnya. KEDUA, Ketidak adilan terhadap

rakyat sekitar kawasan penyangga ekosistem,  yang dilarang mengakses

kawasan tersebut sejak berstatus dilindungi, bahkan untuk sekedar mencari

sayuran ataupun bambu dihutan. Sementara para cukong kayu dan aparat

pengelola kawasan hingga kepolisian dan tentara berpesta pora mengeluarkan

kayu-kayu dari kawasan. Saat reformasi tiba, rakyat dan oknum aparat pun

merasa bebas dan “bisa balas dendam”. 

 

Sayangnya kebebasan ini kebablasan. Termasuk merasa bebas ramai-ramai

menebang kayu dan menanami tanahnya dengan tanaman semusim. Untuk apa ?

Untuk membiayai gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan  orang kota,

televisi, radio dan perilaku pejabat serta selebritis negeri ini (termasuk

selebritis NGO lho). Mulai dari membeli sepeda motor, televisi hingga

pelesir ke kota untuk melihat “kemajuan”. Ini bisa di ibaratkan menggali

beramai-ramai kubur sendiri.  

 

Dalam 4 tahun terakhir, sektidaknya hutan di Jember menyusut hingga 26%.

Kawasan cagar Alam gunung abang dan sekitar pegunungan Hyang memiliki

batuan dengan pelapukan tinggi dengan formasi batuan dengan tingkat

kekuatan tanah dan batuan rendah. sehingga kehadiran hutan peranan sangat

penting pada kawasan ini untuk menyeimbangkan proses pelapukan. Kondisi

tanah yang rentan, pada kawasan-kawasan dengan kelerengan tinggi dan

tutupan hutan berkurang akan beresiko bencana saat tak mampu menahan

tingginya intensitas dan curah hujan yang datang.  

 

Penjarahan hutan di era reformasi disekitar Pegunungan Hyang dan CA Gunung

abang ini bahkan sempat di dokumentasikan oleh salah seorang dosen UNEJ.

Serombongan tim Dephut dari propinsi , juga pernah datang melakukan

investigasinya pada tahun 2003. telah diketahui kawasan tersebut hutannya

rusak Tapi tidak dilakukan tindak lanjut apapun. Mungkin karena tidak ada

proyek. tidak ada anggaran, kawasan penyangga, kawasan kering perhatian.

Kelompok PA Faperta Unej, MAPENSA, bahkan menemukan penyusutan

keanekaragaman burung sejak tiga tahun terakhir dikawasan pegunungan

Argopuro  Hyang , setidaknya hingga 30 jenis setiap tahunnya. Angka yang

lumayan tinggi. Burung adalah indikator keamanan dan kenyamanan suatu

wilayah. Important Bird Area (IBA), merupakan kawasan-kawasan kaya jenis

dan jumlah burung yang umumnya berada dikawasan-kawasan ketinggian. salah

satunya Argopuro. berkurangnya jenis burung menunjukkan ada masalah dalam

jaring-jaring ekosistem dan rantai makanan dikawasan tersebut, atau dengan

kalimat pendek kawasan tersebut sedang mengalami gangguan serius, yaitu

perubahan habitat, terjadinya alih fungsi hutan.  

 

Kawasan paling berhutan di Jawa

Jawa timur merupakan bagian pulau Jawa yang hutannya masih luas dan memilik

kawasan konservasi terbanyak, diantaranya lima buah Taman Nasional. Kawasan

Jember dan Banyuwangi  adalah dua kabupaten yang kawasan hutannya paling

banyak di Jatim, sekitar 25%, dari 30% yang disyaratkan. Yang harus digaris

bawahi, kawasan-kawasan yang paling berhutan ini ternyata juga dikunjungi

bencana. Tanggal 20 desember 2005, di Banyuwangi, juga telah terjadi banjir

di Grajagan akibat rusaknya hutan dikawasan hutan lindung Grajagan yang

dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi selatan, 2 orang meninggal , puluhan

rumah rusak dan korbannya  mencapai 130 KK , mulai  yang rumahnya terendam

hingga warga yang megalami sakit kulit akibat lingkungan banjir.

Menyusul  berikutnya tragedi di Jember.  

 

Sepertinya tidak tepat lagi kita menyebutnya sebagai bencana alam, seolah

alam iseng menyebabkan bencana, alam lah yang salah. jika alam yang salah

biasanya Tuhan yang disalahkan. lebih tepat  menyebutnya bencana ekologi.

Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak beres dan dibiarkan. 

 

Irionisnya, pengurus negara dan rakyat menyikapinya seolah ini adalah

kejadian baru, dengan ritual yang sama. Kunjungan pejabat, penggalangan

bantuan dan tayangan derita di media. Padahal bencana banjir, sepaket

dengan longsor dan kekeringan  berlangganan setiap tahun dan telah

meningkat sejak 5 tahun terakhir. Kawasan dengan intensitas banjir terbesar

adalah Jawa tengah dan Jawa Barat. menurut data Satkorlak, 2003, kejadian

banjir di Indonesia meningkat menjadi 236 kejadian banjir pada  26 propinsi

di Indonesia pada tahun 2003, dimana 20 kejadian diantaranya terjadi di

Jawa tengah dan 12 lainnya di Jateng dan 9 kejadian di Jatim. Angka

tertinggi di di Jawa. 

 

Hutan-hutan di Jawa tengah dan Jawa barat sesungguhnya telah terlebih

dahulu di jarah, atau terlebih dahulu habis. Jawa timur sepertinya akan

menyusul menjadi langganan bencana banjir menyamai dua tetangganya yang

lain. Setidaknya dengan rusaknya kawasan hutan produksi dan hutan rimba di

barat pulau Jawa, maka Jawa timur yang kondisi hutannya masih “lebih baik”

akan berpotensi menjadi pemasok kayu bagi industri lokal maupun luar daerah

di pulau Jawa, baik dengan cara legal maupun  ilegal. Jika dibandingkan

dengan potert pemenuhan kayu di Indonesia, tentu cara ilegal yang paling

banyak. Saat ini hanya 40% kebutuhan kayu yang mampu di pasok dari sumber

kayu legal oleh hutan Indonesia.  Kawan-kawan yang bekerja diisu hutan dan

gank Bogor pasti lebih tahu mengenai hal ini . 

 

Mungkin, pengurus negara terlanjur mencintai banjir . Saat bencana banjir

datang, orang akan lupa terhadap perilaku bobrok pengurus negara, mulai

korupsi sampai dampak kenaikan BBM, naiknya harga barang-barang dan antrian

BLT. Apalagi banjir datang, bisa berarti : Belanja. waktunya menghabiskan

anggaran bencana di APBN hingga APBD, serta………… yang paling

menyenangkan : memobilisasi bantuan. Setidaknya, korupsi akan menemukan

peluang-peluang baru ditengah-tengah kesibukan pengelolaan bantuan bencana.

Pasca bencana, akan memungkinkan lahirnya proyek-proyek baru penanganan

paska bencana, mulai pembangunan fisik hingga pelayanan psikologis . Proyek

baru berarti lahan korupsi baru, sampai musim kemarau datang, jika ada

bencana kekeringan dan paceklik, …….klik, ……..klik …..maka proyek

baru akan datang. 

 

Duh….. pengurus negeri ini telah kecanduan banjir.

   

 

Mae,  Jakarta, 8 januari 2006

Posted by ecosisters at 09:06:09 | Permalink | No Comments »

Friday, December 2, 2005

ecosisters gathering

Akhirnya…ecosisters ngadain pertemuan juga…setelah pertemuan awal diadain lebih dari setahun yang lalu ;p Lumayan banyak juga yang ikut, ada 11 perempuan dari sekitar 25-an yang terdaftar di mailing list-nya (waktu itu…). Pertemuannya diadain di daerah puncak, di tengah-tengah kebun teh. Dingin? So pasti….untung ada bandrek dkk yang setia menghangatkan perempuan-perempuan yang kedinginan (yah…ngak ada l*k* bandrek pun jadi…husss!!!).

Mungkin para mamang yg setia menjalankan tugas melayani makan-minum dan jaga-jaga ini heran banget ngeliat ulah para perempuan yang memang gahar-gahar. Berkali-kali dapur mereka disatroni untuk nanyain apakah makanannya udah siap…teroris banget gak sih??? Belum lagi waktu-waktu coffee-break…pisang goreng dan tales yang disuguhkan –seberapa banyak pun– langsung licin dalam sekejap.

Eniwei, acara kumpul kali ini bisa dikatakan sukses lah. Walaupun gahar, kita-kita tetap ceria dan produktif (bukan tiba2 pada hamil lho…mentang2 diskusi di milis lagi ngomongin alat reproduksi ;p). Diskusi yg berakhir pada malam pertama itu menghasilkan beberapa kesepakatan dan komitmen-komitmen kerja dari para sisters. Mantap!! Te-O-Pe!!

Sesi malam diawali dengan makan malem yang sumpah enak buanngggeeeetttsss…padahal kita cuman makan nasi liwet pake teri. Terus, sebagian sisters melanjutkan dengan berteriak-teriak di tengah malam gulita…’kali jangkrik aje minder. Sementara sebagian yang lain menjaga kesehatannya dan tidur lebih awal (sori ya friends…kalian gak terganggu kan? blink-blink ;D).

Well, in one word, acara gathering kali ini pokoknya FUN deh…nyesel kan yang gak ikut? Kapan-kapan ya kita adain lagi…(“,)yy.

Posted by ecosisters at 10:21:22 | Permalink | No Comments »

Monday, October 10, 2005

A Place in the World

Neng ery deui….doyan roti…. and pisang….

 

A Place in the World (Lynn Elsworth)

 

 

A place in the world merupakan frasa yang pada jaman feodal Inggris diartikan sebagai sebuah hak yang melekat pada petani atas jaminan tuan tanah untuk bisa mengelola dan mendiami sebidang lahan, tanpa dapat diganggu-gugat keberadaannya. Dalam perkembangan masa, kemudian hak ini berkembang dengan artian yang lebih luas, ditambah dengan fungsi-fungsi yang melekat pada sebidang lahan, yang tidak dapat diperdagangkan. Hak ini disebut tenure.

 

       
       
       
     

 

Jaminan Tenurial (Security of Tenure) dalam 4 aliran pemikiran besar di dunia akademis

 

Security of Tenure

Property Rights

Agrarian Struture

Common Property

Institutionalis

Fokus bahasan

Kepentingan nilai ekonomi dengan memiliki hak properti yang dapat diperdagangkan

Mempermasalahkan outcome yang adil pada perdagangan terbatas atas hak properti

Pengakuan dan dukungan atas sistem properti berbasis masyarakat yang tradisional yang masih berlaku di wilayah hutan alam

Bagaimana ekonomi politik yang lebih luas secara konstan membentuk kembali rejim properti dan menentukan untuk memberikan atau tidak memberikan tenure security kepada orang2 yang menuntut sebuah hak properti tertentu


 

Security of Tenure

Property Rights

Agrarian Struture

Common Property

Institutionalis

Konsep dan Argumen

Hak properti dimaksudkan sebagai hak yang melekat pada seseorang/institusi secara individu, privat dan bisa diperdagangkan.

Dengan sifat2 tersebut, diyakini bahwa akan terjadi efesiensi produksi.

Dengan pertumbuhan populasi sumberdaya akan semakin langka, sehingga sistem properti privat harus dibuat dengan memfokuskan pada perdagangan individual.

Meskipun akan terjadi pihak menang dan kalah dalam transaksi dagang, hasilnya akan tetap membuat semua pihak menjadi lebih baik dari sebelumnya (lihat konsep Pareto optimality)

 

Aliran ini mengacu pada distribusi lahan (termasuk hutan atau wilayah umum lainnya) di antara petani.

Meyakini bahwa titel yang dapat diperdagangkan dapat melindungi petani dari ancaman pencaplokan lahan oleh pemerintah maupun perusahaan, namun tidak selalu mampu berpihak pada orang �’kecil�’ /miskin.

Memandang security of tenure bukan hanya sebagai hak melekat tapi lebih kepada keinginan politik yang dapat menjamin komunitas dari kelas miskin dan menengah untuk mendapatkan perlindungan dari tekanan pasar.

Kepemilikan sumberdaya oleh komunitas memiliki banyak nilai kebaikan non-ekonomis yang dibutuhkan sebagai kelompok masyarakat.

.

 

Tidak secara spesifik mengkritik teori dari property rights maupun agrarian structure.

Memfokuskan pada pembahasan sumberdaya umum (common resources) non individual.

Harus dibedakan antara sumberdaya open access (yang tidak dikelola), dan common property yang dikelola.

Meyakini bahwa sistem ini dapat menjadi tumpuan bagi kaum miskin, dengan tidak memprivatisasi seluruh properti.

Aliran ini mendukung ruang fisik dan kultur yang memperkuat ikatan sosial antar manusia, dapat lebih efesien dalam mengelola sumberdaya, merupakan sistem paling adil secara praktis maupun kemanusiaan dalam megelola sumberdaya,, memberikan akses bagi sumberdaya yang mampu bertahan dalam keadaan sulit, memberikan tempat di dunia, serta mengalokasikan banyak jenis sumberdaya berdasarkan konsep lokal.

Anggota kelompok masyarakat dengan kepemilikan tenure memiliki keseteraan dalam menuntut hak tenure security.

 

Menggunakan metode analisa mulitdisipliner yang mencoba mengungkap asumsi dan definisi aliran lain.

Sebagai perspektif alternatif yang dimulai dari poligik akses dan kontrol sumberdaya di antara beragama aktor ssosial dan mengacu pada perubahan lingkungan sebagai outcome dari negosiasi antara aktor2 sosial yang memiliki prioritas berbeda dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam.

Tidak ada tipe properti yang ideal, sehingga untuk aliran ini kekuatan politik dan distribusi sumberdaya menjadi lebih penting dalam menentukan siapa yang bisa memperoleh security of tenure, siapa yang tidak.

Hak properti dilihat sebagai suatu relasi sosial di antara para pihak.

Hak melekat yang dapat diperdagangkan adalah bagian dari tenure security.

Bukti-bukti

Di luar AS dan Eropa yang menjadikan hak properti sebagai sitem legal, aliran ini terbukti tidak dapat berlaku optimal.

Di negara-negara lain seperti di Asia maupun Afrika, sistem ini tidak terbukti dapat diberlakukan secara positif.

Meski menuai kritik dari bukti-bukti terdahulu, aliran ini tetap yakin akan unggulnya kebijakan reformasi lahan (land reform).

 

Berdasar data, sistem ini dapat bertahan di beberapa tempat, namun di tempat lainnya tidak bertahan, atau harus melakukan penyesuaian.

 

 


Review Kebijakan

Aliran ini mengurangi luasan arti dari tenure security dengan membatasi pada sebuah hak melekat yang dapat diperdagangkan pada pasar jual-beli lahan.

Untuk lahan dan hutan, ada beberapa nilai yang tidak dapat diperdagangkan hanya karena dipercaya dapat menghasilkan pemanfaatan yang paling efisien.

Pasar dapat memberikan nilai tambahterhadap sumberdaya sekaligus memberikan penilaian yang tidak adil, oleh karena itu harus ada kontrol dan pengaturan terhadap pasar sehingga pemilik sumberdaya mendapatkan nilai maksimal dari sumberdaya yang dimilikinya (terutama untuk kelas tertentu).

Perlunya aturan untuk dapat memberikan tenure security, bukan sebatas perjanjian di atas kertas.

Dengan kritik bahwa sistem perdagangan dengan hak melekat individual dapat menyebabkan ketidaksetaraan dan berkurangnya efisiensi, aliran ini mengusulkan pemerintah untuk menemukan cara guna mendukung sistem properti ini dengan lebih mengakui hak komunitas ketimbang individu dalam kepemilikan hutan.

Dalam kebijakan, aliran ini bersimpati terhadap common property dan agrarian structure, namun melihat bagwa kebijakan tersebut lahir dari ekonomi politik dan menciptakan pihak yang menang dan kalah.

Menganalisa kebijakan yang mempelajari siapa yang mungkin menang dan kalah.

Mengusulkan untuk melakukan pemikiran tentang distribusi aset dan pendapatan serta memikirkan masa depan dunia.

Posted by ecosisters at 14:51:22 | Permalink | No Comments »

Ekologi Politik

EKOLOGI POLITIK

Oleh: Ery Damayanti (cewek kelen n doyan bgt ama pisang)

 

Tugas kuliah nih..enjoy the reading..

 

Istilah ekologi politik diperkirakan baru digunakan pada tahun 1972 (oleh Wolf) dengan definisi yang amat luas. Sampai saat ini telah terjadi serangkaian review dari waktu ke waktu mengenai definisi tersebut dengan penekanan berbeda-beda. Namun dari sekian definisi yang ada kemudian menunjukkan bahwa ekologi politik mewakili sebuah alternatif yang sangat nyata terhadap ekologi apolitik.

 

 

Apa itu ekologi apolitik, pada akhirnya akan juga menjawab ekologi politik. Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa secara umum manusia (umumnya yang tinggal di kota) memiliki perspektif tertentu mengenai ekologi atau kehidupan alam bebas. Dengan sekian banyak informasi yang dapat diserap, maka yang terjadi adalah kehidupan alam bebas (wilderness) selalu dipersepsikan sebagai kehidupan yang terdiri dari flora dan fauna tanpa kehadiran sosok manusia di dalamnya. Ilustrasi ini kemudian menggambarkan sebuah situasi di Kenya dan Tanzania, di mana kondisi lingkungan di Kenya jauh lebih parah dibanding Tanzania. Namun ketika pertanyaan mengenai penyebabnya diangkat, maka jawabannya akan lebih bersifat politik dan ekonomi daripada geografis.

 

 

Pandangan-pandangan apolitik mengenai hubungan ekologi yang terjadi dalam salah satu habitat terkaya dunia mengarahkan pada beberapa asumsi yang salah tentang dunia �’alam bebas�’ Afrika. Yang pertama adalah imej keabsenan manusia dari suatu ekosistem tertentu, dan yang kedua adalah keterpencilan suatu daerah sehingga lepas dari pengawasan ekologi yang �’seharusnya�’. Pandangan ini berkeyakinan bahwa masyarakat lokal adalah tekanan terbesar bagi tingginya degradasi lingkungan. Pendekatan apolitik kemudian menaruh dua isu besar sebagai fokus dalam diskusi-diskusi lingkungan, yaitu kelangkaan-lingkungan (ecoscarcity) dan modernisasi.

 


Jika dilihat dari pendekatan ekologi politik, maka peran tekanan pasar global serta status tenurial tanah masyarakat, menjadi faktor dominan bagi terjadinya degradasi lingkungan di Kenya. Dengan melihat faktor dominasi penentu kualitas ekologi yang merupakan sistem kekuasaan dan pengaruh, maka tak heran apabila definisi ekologi politik kemudian menjadi berkembang dari waktu ke waktu. Sejak Cockburn dan Ridgeway (1979) yang mendefinisikan ekologi politik sebagai suatu cara yang berguna untuk menggambarkan tujuan gerakan radikal di negara-negara industri yang pada prakteknya jauh berbeda dengan lobi lingkungan (eco-lobby), hingga keterpaduan ekologi dengan ilmu-ilmu sosial seperti politik dann ekonomi. Melihat rangkaian definisi ekologi politik, ada satu hal yang kelihatannya menjadi benang merah, yaitu ekonomi politik. Ekonomi politik sendiri merupakan suatu ilmu yang berdasar pada penghitungan ekonomi pada distribusi kekuasaan dan relasi antar aktor yang dipengaruhinya.

 


Dalam pembahasan kemudian, ekologi apolitik yang menurut pendapat saya, mencoba membuat hubungan sebab-akibat dari suatu proses tertentu terhadap kondisi lingkungan tanpa melihat kemungkinan adanya mekanisme yang secara aktif didisain, banyak gagal dalam menjelaskan berbagai kasus. Teori Malthus tentang demografi misalnya, yang juga digunakan oleh pendekatan ini untuk menjelaskan mengenai terjadinya degradasi lingkungan yang merupakan akibat pertumbuhan penduduk, gagal menjelaskan mengapa konsumsi di negara seperti Amerika jauh lebih tinggi dibanding India yang jumlah penduduknya jauh lebih banyak. Asumsi-asumsi dasar yang mengarah pada solusi dalam menyelamatkan lingkungan, seperti transfer teknologi dari negara industri kepada negara berkembang, dan kepercayaan yang berlebihan terhadap fungsi pasar, juga merupakan kelemahan pendekatan ini. Namun pada akhirnya, ketika kita sampai pada perkembangan penggunaan pendekatan ini dalam kasus-kasus yang ada, tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa bahkan pendekatan ekologi apolitik bersifat politik juga.

 


Sementara itu pendekatan ekologi politik juga menuai kritik. Selama ini pendekatan ini banyak digunakan untuk kepentingan korporasi, negara dan pemegang kekuasaan lainnya. Ini bisa terjadi karena pendekatan ini mencoba memunculkan berbagai konsekuensi dari terjadinya dampak kondisi kebijakan dan pasar, sehingga banyak hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan lebih besar oleh para pemegang kekuasaan.

 


KONSTRUKSI ALAM

Perspektif berbeda dapat ditemukan pada pendapat 2 orang tentang sebuah rimbunan pepohonan. Seorang pekerja kehutanan akan merasakan kebanggaan melihat tutupan kanopi yang rapat dari sebuah area yang diyakini sebagai hutan. Namun seorang anggota masyarakat lokal melihat rimbunan pepohonan tadi sebagai suatu ancaman bagi lingkungan, sebuah lahan yang tersia-sia karena yang tumbuh di atasnya adalah pohon yang tidak dikenal oleh mereka secara sosial maupun lingkungan.

 


Pentingkah membahas suatu lingkungan dengan mempertanyakan apakah yang telah terjadi atas lingkungan tersebut merupakan suatu konstruksi? Immanuel Kant telah mengusung opini bahwa sesungguhnya ide yang kita miliki tidak menyesuaikan diri dengan obyek di sekeliling kita, melainkan obyek-obyek tersebut yang merupakan terjemahan ide-ide kita.

 


Ada 2 tipe untuk istilah konstruksism yaitu yang radikal dan yang lunak. Untuk aliran radikal, banyak menuai kritik karena dianggap tidak dapat menjelaskan suatu kejadian secara ilmiah melainkan lebih pada keyakinan intutitif dan berlebih pada suatu konsep. Para pengguna pendekatan ekologi politik lebih menggunakan konstruksism yang lunak. Namun demikian penggunaan bentuk konstruksi yang lunak dapat mengakibatkan hasil yang bias, tidak lengkap dan pemahaman yang salah pada suatu kasus karena faktor penyaringan melalui konsep subyektif dan metodologi ilmiah yang sangat dipengaruhi kondisi sosial.

 


Bab Konstruksi Alam, Konservasi dan Kontrol, serta Identitas Lingkungan dan Gerakan Sosial banyak membahas mengenai konflik yang terjadi baik yang masih mengendap maupun sudah terang-terangan antara kebijakan/tindakan penetapan mengenai suatu lingkungan oleh pemegang kekuasaan dan masyarakat lokal.

Posted by ecosisters at 14:46:58 | Permalink | Comments (9)

Wednesday, October 5, 2005

Hi kawan-kawan,

 

Maaf, aku baru saja bisa masuk karena yach kami di kapung dan disuruh komunikasi dengan sebuah format yang sudah disediakan tanpa assessment  kapasitas dan kondisi perkampungan.  Yach.. itu artinya bagi semua kawan yang di kota harus nunggu yach dan sabar.. ssstttsss….. bukan sabar karena harga migas naik yach..

Ibu Yaya dan teman-temuan…

saya tidak setiap waktu bisa masuk ke alam web ini… sesekali aja…

Ok bagaimana ada perkembangan apa ngak ?…

 

salam,

ems

 

Posted by ecosisters at 07:48:40 | Permalink | No Comments »

blink

Beberapa waktu yang lalu, gue menyelesaikan mbaca bukunya Malcolm Gladwell, judulnya Blink (berkedip–kedipan). Buku ini sedikit banyak agak meruntuhkan semua teori yang menyatakan bahwa data dan informasi yang lengkap, komprehensif dll lah yang akan menentukan keakuratan pembuatan suatu keputusan.

Ternyata nggak demikian juga tuh faktanya. Seperti dipaparkan dalam buku ini, banyak keputusan akurat diambil hanya dalam hitungan sekedipan mata.

Kenapa demikian? Mungkin bisa dilihat beberapa statistik berikut…ternyata:

  • 99% proses berpikir adalah proses tidak sadar
  • Hanya 1% dari seluruh sel otak yang melakukan proses berpikir secara sadar
  • 82% komunikasi di dalam kelas-kelas belajar adalah komunikasi non-verbal
  • 90% proses pembelajaran adalah proses visual
  • 85% bagian otak terkait dengan pemrosesan visual

Mungkin di kalangan kita-kita fenomena ini sering disebut intuisi. Nah menurut Blink intuisi ini adalah sebenarnya juga proses berpikir….tapi proses berpikir tidak sadar (subconscious thinking). Mungkin ini pula yang mendasari dikembangkannya EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional dan tidak hanya IQ (Intelligent Quotient). Dan seperti pendapat Albert Einstein, imagination is more important than intelligent. Tapi jangan keseringan berimajinasi, nanti nggak bisa membedakan mana realita mana khayalan ;P ….[yaya]

Posted by ecosisters at 06:56:22 | Permalink | No Comments »

Thursday, September 29, 2005

konservasi yang aneh

Saya lagi baca satu buku tentang community based conservation. Ada satu ‘case study’ yang ingin saya kutip untuk di share… semoga bermanfaat.

Health Consequences of Conservation

A large conservation organization on a small Pacific island was concerned to protect coral reefs. Its strategy to create a marine protected area where the harvesting of certain species was prohibited. The protected area was set up and functioned well for a number of years before a team evaluate the effort. By chance, they went to local clinic and looked at the health records. They were astonished to find a decline in birth weights and an increase in case of malnutrition among girls between the ages three and five years. The health worker reported that the intensive logging on the island had led to a steep decline in soil fertility and thus harvest failures over the past few years. Further inquiries led to the finding that since reef fishing and shellfish gathering had been restricted, fish were given primarly to senior people and eaten by others only on feast day.

Kalo udah gini, konservasi ya kudu dibalikin ke masyarakat kali ya….. (Ijul)

Posted by ecosisters at 10:01:47 | Permalink | No Comments »