Thursday, March 27, 2008

Secangkir Kopi dan Obat Kumur

Saya kembali lagi mengajar setelah empat tahun divakumkan. Buku-buku baru segera saya persiapkan. Satuan Acara Perkuliahan dipikirkan dengan matang. Saya bersemangat. Maklum empat tahun sudah otak kiri dan kanan tidak diaktifkan untuk membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa.  

     “Mengapa kamu divakumkan?” tanya Sosialiwati sore itu ketika kita sedang duduk minum kopi sore hari di Senayan City.

     “Karena mulut
saya bau,” jawab saya sambil
menegak kopi tubruk.

Menerawang. Otak saya mengambang ke sudut-sudut ruang kelas Universitas Cinta Pada Diri Sendiri empat tahun yang lalu. Dosen muda berbakat. Bergelar S-2 dengan segudang cita-cita. Kata orang, membagikan ilmu adalah kesempurnaan batin dan pahalanya dibawa sampai mati. Jika saya berada dalam ruang kelas, saya merasa menjadi raja yang dipuja dan disembah. Semua mata mahasiswa menatap kagum dan sedikit mengantuk, mencoba mendengarkan rentetan kalimat menerjemahkan angka menjadi sebuah arti dalam statistik. Pendidikan, ajar mengajar, learning, dan sharing menjadi hidup saya sampai pada akhirnya peraturan itu diberlakukan.

Peraturan menggunakan obat kumur berlaku ketika Bapak Dr. Menghajar Duniaku, SH, SE,MBA menduduki jabatan Rektor. Semua pegawai, dosen, hingga office boy diwajibkan menggunakannya. Agar universitas kami menjadi nomer satu. Masuk dalam daftar universitas andalan negara ini.  Sebagai universitas terbersih, terawat, dan tidak ada yang bau mulut. Terserah mau menggunakan merk apa. Betadine, Listerin, dll. Apa saja. Yang penting berkumur setiap hari. Di setiap ruangan dosen terpasang petunjuk penggunaan obat kumur. Jika tiga hari tidak berkumur maka Surat Peringatan Pertama di keluarkan. Potongan gaji sudah pasti dilakukan. Jangan sampai surat peringatan ketiga muncul. Selamat tinggal dunia pendidikan, silahkan bekerja ditempat lain.

Beberapa dosen melakukan perlawanan karena tidak sejiwa dengan prinsip pendidikan yang terbuka. Berbicara apa adanya dan kejujuran adalah kewajiban dosen. Tetapi prinsip itu melawan dan menyalahi aturan pakai obat kumur. Di ruangan dosen-dosen tersebut diletakan obat kumur berdosis tinggi yang wajib dikumur setiap satu menit sekali. Jika masih ada penolakan, maka mereka akan mengalami hukuman divakumkan dari kegiatan ajar mengajar selamanya dari universitas ini.

Dunia pendidikan yang murni menjadi kusam. Saya juga tidak suka berkumur. Rasanya seperti membakar lidah dan tidak ada jaminan bahwa karang gigi bakalan hilang. Sekali dua kali saya tidak berkumur. Daripada merasa tersiksa mendingan saya melawan. Alarm ruangan saya sering berbunyi setiap pelanggaran dilakukan. Sekali dua kali alarm tersebut tidak digubris oleh penjaga keamanan kampus. Tetapi ketika memasuki bulan ketiga dan alarm itu terus berbunyi, penjaga keamanan berdatangan dan dengan pentungannya memaksa saya berkumur. Saya meronta dan menolaknya.

Peraturan tetap peraturan, kata beberapa pejabat kampus ketika siang itu diadakan proses pengadilan kecil terhadap pelanggaran obat kumur. Tidak ada alasan tidak berkumur, kata mereka lagi. Pendidikan jangan disamakan dengan pasar rakyat yang tidak berbudaya karena penampilan tidak dipedulikan dan kata-kata tidak harus disaring. Orang yang berpendidikan tidak asal buka mulut. Harus dipikir, dicerna, disaring, dan diintisarikan. Jangan nodai ketenangan dengan bau tak sedap yang keluar dari mulut orang berilmu. Teriak mereka lagi. Membuat kepala saya berputar. Dunia pendidikan menjadi makin gelap dan saya pingsan.

     “Bukannya kamu sudah berkumur dengan Betadine?” suara Sosialiwati menyentak saya.

Samar rangkaian cerita empat tahun yang lalu memudar kembali ke detik ini. Saya meminum kopi tubruk yang tinggal setengah cangkir dan sudah dingin seperti hati saya.  

     “Iya. Makanya saya mengajar lagi,” jawab saya. Meneguk kopi tubruk yang tinggal ampas.

Maret 2008
oleh: Catharina Dwihastarini

Posted by ecosisters at 05:45:18
Comments

2 Responses to “Secangkir Kopi dan Obat Kumur”

  1. duy says:

    wah seru juga tuh ngopi sambil ngobrol2 tentang kehidupan…

  2. This is really a nice blog,i always come here and read the articles

Leave a Reply