Thursday, March 27, 2008

Belanja Hemat dan Hijau

Jika akhir pekan ini anda libur total, silahkan dicoba sebuah hal kecil yang bisa menyumbang perubahan besar untuk anda, bahkan juga untuk bumi tercinta. Sebuah proyek sederhana. Membuat daftar inventarisasi semua barang yang anda punya. Semua barang. Termasuk jumlah kaos hitam dan celana bermuda yang ada di lemari, judul-judul DVD yang rusak karena malas mencoba pas sedang beli, barang-barang kecil serba lima ribu yang menarik ketika masih di toko namun akhirnya teracuhkan berdebu di lemari atau kolong tempat tidur, serta karpet yang ternyata warnanya tidak terlalu sesuai dengan tema kamar. Cukup terkejut melihat panjangnya barang dalam daftar?

Tanpa disadari perilaku konsumerisme, sebuah perilaku dimana rasa senang ditimbulkan dengan membeli dan mengkonsumsi barang, semakin menjangkiti masyarakat Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta. Konsumerisme sering disalahartikan sebagai penggila belanja barang mewah. Beberapa pelakunya bisa berkelit dari tudingan ini dengan dalih tidak pernah membeli barang berharga selangit di pertokoan mentereng. Namun, tumpah ruahnya manusia di bazaar sepatu Charles and Keith yang memberikan diskon sampai 70%, berjejalnya ibu-ibu muda berbusana kantoran di tempat mainan anak Sogo Jongkok yang berlokasi dibelakang Plaza Mandiri, serta berlembar-lembar brosur pengajuan kredit tanpa bunga untuk mini compo terbaru mematahkan penyangkalan tersebut.

Walaupun konsumerisme erat dikaitkan dengan negara maju, namun perilaku ini tidak lekang oleh budaya maupun letak geografis. Hampir seluruh masyarakat di kota besar diberbagai pelosok dunia mulai terjangkit sifat konsumerisme dimana mereka mulai membeli banyak barang melampaui kebutuhan mereka. Amerika dan negara-negara Eropa sudah mengalaminya sejak beberapa dekade yang lalu. Namun pada 2004, hampir setengah pembelanja tinggal di negara berkembang, termasuk 240 juta di China dan 120 juta di India. Mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar setelahnya, maka Indonesia berpotensi untuk menyumbang angka besar untuk jumlah pembelanja.

Kondisi sekitar adalah faktor utama yang bisa membangkitkan kebiasaan berbelanja yang berlebihan ini. Majunya media informasi mengurangi batas setiap orang untuk memperhatikan gaya hidup orang lain. Tengok saja berbagai media baik cetak maupun audiovisual yang didominasi oleh tayangan gaya hidup para artis baik yang jelas terlihat di infotainmen atau yang tersirat dari berbagai judul sinetron. Setiap hari mereka membanjiri para penonton dengan kebiasaan berganti-ganti produk dengan mudah. Bahkan pepatah mengejar ilmu sampai ke negeri China bergeser menjadi mengejar merk terkenal sampai ke negeri China.

Berbagai contoh yang menggiurkan ini didukung juga oleh kebijakan yang dikeluarkan berbagai lembaga finansial untuk mempermudah konsumennya belanja dengan memperkenalkan konsep berhutang atau kartu kredit. Mengajukan aplikasi kartu kredit kini sama mudahnya dengan menemukan tukang nasi goreng dibawah jembatan penyeberangan. Apalagi jika sudah memegang satu kartu kredit, dijamin kartu kredit dari bank lain akan mudah tiba ditangan.

Tidak berhenti sampai disitu, selanjutnya para pemegang kartu kredit akan dibanjiri promosi kenaikan pagu kredit, berbagai barang yang bisa dicicil sekian bulan dengan bunga 0%, serta diskon sampai 70% di gerai pakaian tertentu. Semuanya membuat konsumen semakin tergoda untuk menggesekkan kartu kredit dengan alasan kapan lagi dapat diskon besar. Alasan utama untuk belanja karena benar-benar membutuhkan suatu barang seringkali tergeser menjadi prioritas kesekian.   

Dampak yang paling jelas dari kebiasaan ini adalah alokasi dana belanja menjadi kacau balau. Rencana jangka panjang untuk berinvestasi menjadi terkalahkan oleh keinginan jangka pendek yang menguras dompet dan tabungan. Namun, ada dampak yang lebih jauh lagi dari itu. Kritik yang sering terlontar untuk konsumerisme adalah bahwa masyarakat yang konsumeris lebih rentan terhadap kerusakan lingkungan, mempercepat terjadinya perubahan iklim, dan menggunakan sumber daya lebih besar dibandingkan masyarakat lain.

Ada sebuah metode perhitungan yang dinamakan ecological footprint, jejak kaki ekologis. Metode ini akan menghitung berapa banyak sumber daya alam yang kita gunakan selama menjalankan gaya hidup kita sehari-hari, termasuk juga sampah yang mungkin dihasilkan yang tentunya terkait erat dengan kebiasaan berbelanja.Sebuah kuis mudah yang bisa didapatkan di berbagai situs hanya dengan memasukkan kata kunci. Dengan mencoba kuis ini, kita bisa melihat berapa banyak kita sudah menguras sumber daya alam yang terkandung di bumi dan berapa banyak bumi yang diperlukan jika semua orang menerapkan gaya hidup seperti yang kita jalani.

Tentunya, tidak ada solusi mudah untuk masalah ini. Beberapa usaha telah dicoba seperti pajak hijau, gerakan anti belanja, dan kebijakan untuk para produsen. Namun yang paling penting adalah, perubahan pola pikir setiap pribadi. Tujuannya adalah penyadaran bahwa peningkatan kesejahteraan tidak berarti mempunyai banyak barang, namun lebih ke peningkatan kualitas hidup dengan menggunakan sesedikit mungkin sumber daya alam. Mungkin beberapa tindakan kita terlihat biasa dan kecil. Namun, pernah membayangkan dampaknya ketika ada 1,7 juta orang yang tergolong sebagai pembelanja melakukan hal yang sama?

Merubah kebiasaan sederhana hanya perlu usaha yang sederhana pula. Reduce, reuse, recycle. Kurangi, gunakan kembali, daur ulang. Kurangi frekuensi belanja, selalu membuat daftar belanja agar fokus ketika memasuki toko dan tidak lapar mata. Gunakan kembali barang yang sudah dipunya, kalau perlu modifikasi sedikit baju-baju lama agar menarik dipakai. Kurangi juga sampah, jika masih ada sampah, cobalah untuk didaur ulang. Jika ke toko buku, selain cari novel, bisa dicoba berkunjung ke rak keterampilan untuk melihat cara-cara praktis memanfaatkan sampah sehari-hari. Kegiatan seperti ini banyak yang bisa dikembangkan menjadi penghasilan tambahan yang cukup memuaskan. Misalnya tas dari kemasan plastik, selimut kain perca, hiasan bunga dari sedotan, alat tulis dari kertas bekas, dan masih serentetan produk lain.

Satu orang sudah bisa berkontribusi banyak untuk menyelamatkan bumi. Merubah kebiasaan seringkali lebih mudah jika lingkungan kita melakukan hal yang sama.

Pernah dengar hari tanpa belanja atau buy nothing day? Kegiatan ini pertama kali dipopulerkan oleh Ted Dave sejak 1993. Mereka yang mendukung hari ini tidak akan melakukan jual-beli apapun selama 24 jam. Di Amerika Serikat dan Kanada, hari ini jatuh pada sehari setelah thanksgiving untuk meredam kebiasaan belanja ketika liburan. Beberapa komunitas di Indonesia juga sudah banyak yang menerapkannya pada hari sabtu di minggu terakhir bulan November. Untuk yang belum pernah dengar, cobalah ceritakan kebiasaan ini pada lingkaran terkecil kita, teman dan keluarga. Jangan lupa rumus perkalian, hal kecil namun dilakukan bersama-sama bisa memberikan dampak sangat besar. Anda mau mulai?  (Nduy)

Posted by ecosisters at 06:51:43
Comments

Leave a Reply