Buruk Rupa TV, Kita Celaka
Rupanya Wati berusaha menyakinkan temannya yang terlanjur dihamili pacarnya itu, untuk mengugurkan kandungannya. Apa pula ini?, pikir Tuti. Ia tak habis pikir, dari mana anaknya mendapatkan ide dan jalan keluar seperti itu.
Tak perlu heran. Bisikan Wati menjawab kegalauan Tuti. Ternyata, ia mendapatkan idenya dari tayangan sinetron TV yang tiap hari ditontonnya.
TV atau televisi bukan lagi barang mewah. Hampir setiap rumah di Jakarta, punya TV. Berbagai stasiun TV swasta menayangkan beragam acara, mulai subuh hingga dini hari. Menurut sebuah penelitin, rata-rata warga Indonesia menghabiskan 50 jam setiap minggunya di depan layar TV. Itu hampir sepertiga waktunya dalam seminggu.
Sementara anak-anak Indonesia, rata-rata menghabiskan waktu 4 hingga 5 jam per hari untuk menonton TV. Di hari libur, angka itu naik hingga 10 jam sehari. Bisa dibayangkan, bagaimana tayangan TV menjadi informasi utama, yang memenuhi pikiran, membentuk perasaan dan mempengaruhi perilaku masyarakat, khususnya anak-anak.
Namun, apa jadinya jika tayangan yang tersedia, hanya berisi mimpi-mimpi, kekerasan, mistik, tahyul, miskin nilai-nilai moral tapi kaya dengan gaya hidup konsumtif dan jawaban-jawaban instan ?
Sebut saja sinetron berjudul Legenda, yang ditayangkan di Trans TV setiap hari pukul 19.30 Ia mengadopsi dongeng-dongeng dan legenda kuno dari berbagai daerah. Dongeng-dongeng pengantar tidur yang diceritakan para orang tua kepada anaknya. Saya masih menyimpan beberapa dongeng tersebut dalam ingatan. Salah satunya, tentang kakak beradik Bawang Merah dan bawang Putih. Cerita ini indah, memberikan pelajaran moral, agar kita hidup sederhana, sabar dan tidak sombong.
Tapi, di Sinetron Legenda, cerita itu menjadi terbalik. Nilai-nilai moral dalam dongeng aslinya berubah kelakuan penuh intrik – yang kadang tak masuk akal, gaya hidup mewah hingga perebutan kekuasaan antara si baik dan si jahat yang terkesan dilebih-lebihkan.
Sinetron lainnya, tak jauh beda. Sinetron yang mendapatkan rating tinggi di hati pemirsa, kualitasnya serupa. Mereka lebih banyak mempertontonkan gaya hidup mewah, berebut pacar di usia dini – bahkan dengan cara yang paling culas hingga seks bebas usia remaja dan hamil usia dini.
Bagaimana tayangan lainnya? Reality Show utuk anak? lebih parah lagi. Sebut saja acara musik bertajuk Idola cilik. Ide awalnya cukup bagus, menjaring dan mengembangkan bakat anak. Tapi mari kita cermati pilihan lagu-lagu yang dinyanyikan. Ada Arjuna mencari cinta milik Dewa 19. Ada lagu Matta Band, judulnya Kamu ketahuan pacaran lagi. Juga lagu-lagu orang dewasa bertema cinta hingga perselingkuhan. Lagu-lagu itu dinyanyikan anak-anak berumur dibawah 12 tahun, yang mendapatkan tepuk tangan meriah penonton dan Juri, yang semuanya dewasa. Tak ada lagu balonku ada lima, Naik-naik ke puncak gunung, apalagi Aku ini si gembala sapi.
Apa pilihan lainnya? Film kartun? Ya, ini favoritnya anak-anak tentunya. Biasanya ceritanya ringan dan menghibur. Tapi tunggu dulu. Masih ingat kisah tewasnya Revino, anak umur 10 tahun, siswa kelas IV SD di Semarang awal tahun?
Revino tewas diduga karena meniru gaya Naruto di film kartun remaja berjudul “Naruto”, yang ditayangkan Global TV setiap hari tiap pukul 5 sore Ini mengingatkan kita pada tayangan berjudul “Smackdown” di Lativi, yang akhirnya dihentikan. Ternyata banyak anak kecil yang meniru kekerasan dan perkelahian yang dipertontonkan disana hingga berujung kematian.
Film kartun yang terkenal dan digemari anak-anak, macam Sponge Bob Square Pans dan Crayon Sincan, kurang lebih sama. Mereka juga banyak mengajarkan perilaku anti sosial, bahasa yang buruk dan kekerasan, dibanding unsur yang mendidik. Besarnya pengaruh itu terjadi karena usia anak-anak, merupakan fase meniru. Anak-anak dan remaja adalah peniru ulung. Dan karenanya, mereka cenderung meniru adegan yang ditonton di TV.
Salah satu laporan AC Nielsen (lembaga riset media audience)menyebutkan bahwa 55 persen pemirsa televisi adalah perempuan usia 10 – 24 tahun. Dari jumlah tersebut, 27 persennya siswa SMA dan 20 persen siswa SD. Angka ini mungkin bisa menjelaskan, mengapa angka aborsi di kalangan remaja disini sangat tinggi. Ada seratus remaja per hari melakukan aborsi. Tentu, Kemudahan informasi, mulai dari tayangan TV, DVD, internet yang mudah mengakses situs porno perlu dilihat perannya.
Dari pengamatan penulis, setidaknya ada 10 cara, bagaimana tayangan TV mempengaruhi perilaku dan sikap anak.
1. Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan
2. Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan sasaran produk yang diiklankan di televisi. Iklan-iklan itu mendorong mereka menjadi konsumtif
3. Berpengaruh terhadap Sikap
Anak yang belum memiliki daya kritis tinggi, tapi menghabiskan banyak waktunya untuk menonton TV, besar kemungkinan mudah terpengaruh oleh isi tayangan TV. Mereka bisa berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. Coba disederhanakan
4. Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi sederhana, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
5. Membentuk pola pikir instan dan sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.
6. Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan. Ini akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
7. Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
8. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
9. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV.
10. Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya sehingga anak-anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya.
Hal-hal diatas, tak lepas dari sistem dan struktur penyiaran yang sepenuhnya belum berubah dalam memperlakukan ruang publik, sesuai tuntutan reformasi dalam memenuhi hak atas aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tayangan televisi kita masih tergantung pada para pemodal, Mereka berperan besar dalam menentukan tayangan.
Ketika program TV lebih menonjolkan nilai komersialnya, ketimbang pesan moral, apalagi soal pendidikan, maka jangan heran setiap tayangan-tayangan yang akan berdampak negatif, malah dinilai mampu meningkatkan rating, sehingga memiliki nilai jual bagi para pemasang iklan. Keadaan semacam ini memang tidak dapat dihindarkan mengingat TV di Indonesia mengantungkan hidupnya dari hasil iklan. Oleh karena itu, atas nama rating, mereka berlomba-lomba menayangkan program-program yang jauh dari nilai pendidikan. Tujuannya tidak lain adalah demi pencapaian target setoran perusahaan.
Dimana fungsi kontrol ? Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang seharusnya mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran, bahkan ”kalah gertak” dengan stasiun-stasiun TV. Kita belum pernah mendengar ada stasiun TV yang dicabut izin penyiarannya. Jangankan itu, rasanya kita jarang mendengar sebuah tayangan, sinetron misalnya, ditarik penayangannya karena ditegur oleh KPI. Mengingat sangat buruknya dampak Program TV yang tidak mendidik terhadap mentalitas masyarakat dan mempengaruhi pola pikir anak, sudah saatnya kita lebih kritis dan mendorong KPI untuk bisa bertindak lebih tegas.
Pada akhirnya kita sebagai penonton di tuntut untuk lebih kritis memilih tayangan TV yang akan di tonton . Dengan begitu, kita bisa menjadi konsumen yang bijak. TV dapat kita posisikan sebagai “alat bantu” meningkatkan kualitas hidup, bukannya malah membuat anak-anak berpikir instan, serba mudah, dan hanya jadi “pembantu” yang mendongkrak rating untuk para pengiklan dan stasiun TV. Komplain masyarakat melalui surat / tertulis kepada KPI terhadap tayangan yang bermasalah di TV, mengirimkan surat pembaca di media cetak, seruan-seruan lewat milist-milist, bahkan mengajukan komplain/somasi langsung ke TV yang bersangkutan bisa menjadi pilihan untuk menyuarakan hak publik terhadap kualitas tayangan TV Kita.
Maret 2008
By Vonny Novita