Wednesday, March 26, 2008

Nasib Pasar Tradional Kini

Pak Alimin hanya dapat termangu, karena hingga sore hari belum ada satu pun ikan dagangannya yang terjual. Sudah lebih dari 3 bulan pendapatannya turun drastis, sejak pasar modern dibuka di sebelah kios pasarnya.

Pak Alimin tidak sendiri, ada ribuan Alimin yang harus merugi karena kiosnya tidak lagi didatangi pembeli. Sejak pemerintah memberikan kemudahan kepada pengusaha untuk membangun pasar modern yang berdekatan dengan pasar-pasar tradisional. Saat ini saja sudah ada sekitar 191 pasar modern di Jakarta, baik itu swalayan, pusat perbelanjaann maupun hipermarker . Dan akan dibangun lagi sekitar 100 pasar modern dalam kurun waktu 1 tahun ini. Belum lagi Mini market-mini market yang berjualan sampai di ujung gang-gang kecil. Letaknya pun banyak yang berdekatan dengan pasar tradisional. Atau menempel persis di sebelah pasar tradisional.

Di Jakarta saja, dalam 3 tahun ini ada 8 pasar tradisional yang akhirnya ditinggal pedagangnya. Dan 4 pasar lagi yang akan menyusul, karena pembelinya hanya tinggal separuhnya saja. Sebut saja Pasar Kebon Jati, Pasar Mampang, Pasar Serdang, dan Pasar Grogol. Tidak kurang dari 400 toko di pasar tradisional harus tutup setiap tahunnya. Pedagang merugi karena pembelinya rame-rame berpindah menjadi pelanggan pasar modern.

Di Pasar Kebon Jati saja, dari 1.400 kios yang ada, saat ini hanya terisi 30 persen saja. Padahal pasar ini letaknya cukup strategis. Para pembeli lebih tertarik membeli di pasar modern, yang ada di sebelah Pasar Kebon Jati.

Saat ini, di Jakarta ada 51 pasar tradisional yang berdekatan dengan pasar modern. Seperti Pasar Mede, Pasar Pondok Pinang, Pondok Indah berdekatan dengan Carrefour dan Giant Lebak Bulus. Di Cempaka Mas, Carrefour berdekatan dengan Pasar Cempaka Putih, Pasar Gembrong dan Pasar Sumur Batu. Jaraknya kurang dari 2,5 km, jarak yang tidak diperbolehkan oleh aturan pemerintah.

Memang, pasar modern memberikan pelayanan yang lebih kepada para pembelinya. Tempatnya yang bersih, ruangan yang dingin, dagangannya yang lengkap dan teratur, membuat pembeli betah berlama-lama memilih barang kebutuhannya. Membeli dengan kartu kredit pun bisa dilakukan. Pembeli pun tidak perlu khawatir akan terperosok harganya, karena harga sudah tertera dengan jelas.

Namun, bukan berarti lantas pasar tradisional begitu saja dimatikan. Pasar tradisional tidak hanya menghidupi para pedagang. Di sana ada buruh angkut, buruh pengupas, karyawan kios, penjaga pasar, tukang parkir, yang semuanya bertumpu pada pasar. Saat ini saja, ada 80.000 pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional di Jakarta. Tentu angka semakin besar jika dihitung dengan orang yang menggantungkan hidupnya dari setiap pedagang.

Banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk membantu membangkitkan pasar tradisional. Membenahi kondisi pasar tradisional adalah yang utama. Tentu tanpa meninggalkan bantuan akses modal, informasi dan pasokan. Juga membenahi sistem sewa, yang tetap memperhatikan pedagang lama di pasar tersebut.

Pemerintah pun harus tegas, dengan tata ruang yang telah dibuatnya. Perlu dihitung berapa jumlah pasar modern yang diperbolekan di satu wilayah, dengan memperhatikan jarak dengan pasar tradisional.

Jakarta hanya salah satu contoh. Pasar tradisional di kota-kota lain pun mengalami nasib yang sama. Sudah seharusnya izin-izin pembangunan pasar modern ditinjau kembali, dan tidak perlu lagi mengeluarkan izin pembangunan pasar modern yang baru. (Luluk Uliyah)

Posted by ecosisters at 04:48:24
Comments

One Response to “Nasib Pasar Tradional Kini”

  1. Anonymous says:

    PASAR TRADISIONAL YG DIKEMAS MODERN!!! PERTAMA DI DEPOK!

    “PASAR SEGAR DEPOK”

    Pasar tradisional, yang tertanam di benak kita, identik dengan suasana becek, kumuh, sesak, bau, tata letak lapak yang semrawut dan minimnya lahan parkir. Namun sekarang, buang jauh-jauh pemikiran itu. Soalnya sebentar lagi atau tepatnya awal november 2008 akan dibangun dan dilaunching ‘PASAR SEGAR DEPOK’ yaitu sebuah pasar tradisional yang dikemas modern dan profesional dari segi pengelolaan. Dengan rencana serah terima 12 bulan mendatang maka apabila ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini sudah jadi niscaya kita akan melihat sebuah pasar yang tertata baik, bersih dan segar, serta bisa dibilang bagaikan sebuah supermarket di pusat perbelanjaan ternama.

    Lokasinya yang strategis yaitu di Jl. Tole Iskandar (setelah jembatan S. Ciliwung) diseberangnya perumahan Bella Casa dari arah Margonda, Tentunya merupakan sebuah tempat yang teramat strategis untuk berusaha ataupun sekedar berinvestasi. Dengan dibangunnya ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini tentunya merupakan sebuah keuntungan dan merupakan sebuah surga belanja bagi warga Depok pada umumnya dan warga Depok II pada khususnya.

    Didalam ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini akan terdapat lapak. kios dan ruko yang didesign bersih dan rapi dan tetap mengutamakan keakraban pembeli dan penjual sebagaimana layaknya menjadi ciri khas pasar tradisional pada umumnya. Kami menamakan pasar tradisional itu pasar modern sebab konsep penataan dan pengelolaannya memang dilakukan secara modern dan profesional. Semua kios, lapak, dan toko pedagang ditata dengan tertib. Arsitektur bangunan pasar juga mutakhir. Nantinya pasar tradisional, di sini tidak becek dan tidak bau. Pedagang dan pembeli juga akan jadi nyaman

    Pasar yang yg akan dibangun akan berdiri di atas tanah seluas 1,8 hektare dan dibangun 2 lantai terdiri dari kurang lebih 440 kios, 356 lapak dan 38 ruko dilengkapi dengan area parkir yg luas dan memadai. Area pasar tersebut juga dilengkapi fasilitas khusus seperti ATM center, toilet, dan mushala.

    Mau Beli, Sewa Lapak, Kios dan Ruko di PASAR SEGAR DEPOK? Please STAY TUNED! Launching 01 November 2008

    Untuk info lebih lanjut HUB :

    HENGKY - 081314199029 / 94376817

    PT BUMI SENTOSA AGUNG
    Komplek Pertokoan Versailles Blok FC No 1, sektor 1.6
    BSDCITY, Tangerang
    Telp : 021-53164646
    Fax : 021-53164647

    Semoga Anda menjadi orang yang beruntung

Leave a Reply