Wednesday, March 26, 2008

Hari tanpa Nasi

Seorang anak SD bunuh diri di Magetan, Jawa Timur, dua pekan lalu. Pada pekan yang sama, seorang ibu yang tengah hamil dan anaknya ditemukan tewas di Makassar diduga akibat kelaparan.   Lima anak balita tewas karena busung lapar di Rote Ndao, NTT dalam tiga bulan terakhir.  Cerita sedih semacam ini makin sering kita dengar belakangan ini.  

Apa sebenarnya yang terjadi? Harga pangan, terutama beras, memang meroket tajam dalam beberapa bulan terakhir. Dari Rp 4.500/kg di awal tahun 2008, beras berkualitas sama naik harganya menjadi Rp 5.000/kg.  Produksi beras di beberapa daerah Indonesia merosot akibat banjir dan perubahan iklim.  

Peristiwa sedih seperti di Magetan, Makassar atau Rote Ndao tidak perlu terjadi jika masyarakat tidak sangat tergantung pada beras.   Menurut data BPS, saat ini kebutuhan beras Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 139 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan konsumsi beras tetangga kita Malaysia, yang hanya 80 kg/kapita/tahun dan Thailand 90 kg/kapita/tahun.  Di tengah himpitan harga-harga yang makin melambung, masyarakat menjual umbi-umbian hasil kebunnya untuk membeli beras.   Padahal, perlu 3-5 kg umbi untuk mendapat 1 kg beras.   

Makin lama, tergantung pada beras adalah pilihan yang makin tak terjangkau.  Di pasar dunia, beras makin mahal akibat menurunnya suplai dan muncul ide agar Indonesia bisa mengekspor beras (Kompas, 24/3/2008).  Harga beras bisa tambah naik lagi.    Promosi “Hari tanpa Nasi” bisa menjadi solusinya.  

Beras hanya satu saja jenis makanan utama. Ada banyak jenis hasil pertanian yang bisa menjadi alternatif beras, misalnya sukun, jagung, sagu, keladi, talas, singkong, kentang, pisang dan ubi.  Bagaimana dengan kandungan gizinya?  

Beras mengandung 360 kalori, 78,9 gram karbohidrat, dan 6,8 gram protein.  Dalam kondisi segar, kandungan gizi singkong, ubi jalar, kentang dan umbi lainnya, memang lebih rendah daripada beras.  Tetapi kandungan gizi ini akan meningkat jika umbi-umbian dikeringkan, dijadikan tepung, atau dicampurkan dengan pangan lain seperti kacang-kacangan.  

Sukun segar misalnya, mengandung 108 kalori, 28,2 gram karbohidrat, dan 1,3 gram protein.  Sukun dalam jumlah yang sama, jika dibuat tepung,  menghasilkan 302 kalori, 78,9 gram karbohidrat, dan 3,6 gram protein.  Selain itu, sukun mengandung kalsium dan kalium yang jauh lebih tinggi daripada beras.  Ubi jalar mengandung vitamin A, beta karoten,dan  vitamin C sedangkan beras tidak.  Selain itu, ubi jalar tergolong lambat meningkatkan kadar gula darah sehingga cocok untuk penderita diabetes.  

Hasil-hasil pertanian selain beras tersedia di banyak daerah, dan tidak memerlukan lahan luas.  Ubi jalar termasuk tanaman penghasil karbohidrat yang paling produktif.  Di masa lalu, terutama di pedesaan, orang menanam ubi, singkong dan keladi di kebunnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Di NTT ada jagung pulut, sejenis jagung lokal yang pulen seperti beras ketan dan manis.    Masyarakat di Pulau Yapen, Papua, memiliki sistem berkebun yang mendukung ketahanan pangan keluarga.  Ada berbagai jenis umbi dengan fungsinya sendiri-sendiri, mulai dari untuk makanan pokok, makanan balita, sumber obat, hingga makanan ternak, juga pisang dan sagu.  

Namun, bersama berlalunya waktu, singkong dan ubi dipandang sebagai makanan rendahan dan tidak bergizi, bahkan sering dipandang sebagai simbol kemiskinan. Pada masa Orde Baru juga ada kebijakan pemerintah yang keliru menyeragamkan jenis pangan utama ini. Masyarakat di Maluku dan Papua yang dulu menyantap sagu dan ubi, kini terbiasa dan makin tergantung pada nasi.    Anggapan bahwa belum makan kalau belum makan nasi membuat kampanye diversifikasi pangan yang sudah didengungkan beberapa dekade ini seperti angin lalu.   

Para peneliti telah memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa sukun, umbi-umbian, sagu, dan yang lainnya tak kalah bergizi dibandingkan dengan beras.  Balai-balai penelitian dan pengembangan pertanian telah mengembangkan teknologi pengolahannya, menjadi mi sagu, tepung ubi jalar, tiwul instan, dan lain-lain.     Dewan Ketahanan Pangan di Yogya bersama kelompok pangan lokal, secara rutin membuat lomba kreasi menu non beras yang beragam, bergizi, dan berimbang.   Menunya menitikberatkan pada sumber protein, seperti kacang-kacangan, ikan, hingga belalang, juga sayuran dan buah-buahan lokal.   Lalu, mengapa kita masih juga berat ke beras (dan mi)?.

Mengurangi makan beras adalah persoalan mengubah gaya hidup dan pola makan.  Masyarakat kota besar, yang biasa menjadi trend-setter, maupun kita-kita yang sudah lebih leluasa membuat pilihan-pilihan, bisa memeloporinya.  Pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama mempromosikan ”Hari tanpa Nasi”, sebagai gaya hidup sehat dan bijak.  Keluarga bisa menjadikan satu hari dalam seminggu sebagai hari petualangan kuliner. Hari itu akan diisi dengan menu tanpa nasi,  berlauk-pauk sehat, segar, dan berbahan baku lokal.   Andaikan 25% saja penduduk Indonesia mau menjalankan ”Hari tanpa Nasi” sekali seminggu, dengan asumsi tiap orang membutuhkan 0.1 kg beras untuk sekali makan, maka Indonesia akan hemat beras sebanyak  800 ribu ton setahun.  

Tak perlu menderita.  Kreasi menu tak hanya untuk makanan pokok, tetapi lauk-pauk, hidangan penutup, camilan, dan minuman.  Beberapa jenis makanan yang sudah populer misalnya tempura (terbuat dari tepung ubi jalar), jeli konjaku (terbuat dari suweg), bakso dan soun (terbuat dari tepung tapioka),  biskuit bayi dan semprit (terbuat dari pati garut).  Pakar gizi dan kuliner seperti Ibu Tuti Soenardi giat memuat hasil kreasi menu sehat berbahan dasar tepung ganyong, tepung sukun, pati garut, dan tepung jalejo (campuran jagung, kedelai, dan kacang hijau) di media cetak (Kompas, 17/2/2008 dan 16/3/2008). Berbagai kreasi baru tak kalah eksotis dan nikmat, misalnya talas tumbuk (puree), perkedel kacang merah, puding ganyong, kroket sukun, eclair tepung ganyong,  brownies ubi jalar, cocholate chip dari pati garut dan es krim uwi.

Mengurangi ketergantungan pada beras tak sekedar urusan angka.  Ini menyangkut pilihan hidup bertanggung jawab dan berdaulat.  Penduduk dunia makin bertambah, kebutuhan sumberdaya makin banyak, lahan produktif menyusut, dan beban bumi makin berat.  Dengan mengandalkan sumber pangan yang tersedia di lokal dan tak tergantung pangan impor berarti makin bebas kita membuat pilihan.   Diversifikasi pangan bisa berhasil jika bisa menjadi gaya hidup dan budaya, budaya hidup sehat tentunya.

26 Maret 2008
Christien Ismuranty

Posted by ecosisters at 04:50:08
Comments

3 Responses to “Hari tanpa Nasi”

  1. Good job! …You did it!

  2. I admire your work,can you teach me how to write such a nice article

  3. Thanks so very much for taking your time to create this very useful and informative site.

Leave a Reply