Thursday, March 27, 2008

Buruk Rupa TV, Kita Celaka

Tuti terhenyak.  Sayup-sayup, ia mendengar bisikan Wati. Anak perempuanya, yang duduk di bangku kelas 1 SMP itu, sedang sedang berbicara dengan temannya. ”Udah digugurin aja, kayak di sinetron-sinetron, nggak apa-apa kok.”

Rupanya Wati berusaha menyakinkan temannya yang terlanjur dihamili pacarnya itu, untuk mengugurkan kandungannya.  Apa pula ini?, pikir Tuti. Ia tak habis pikir, dari mana anaknya mendapatkan ide dan jalan keluar seperti itu.

Tak perlu heran. Bisikan Wati  menjawab kegalauan Tuti. Ternyata, ia mendapatkan idenya dari tayangan sinetron TV yang tiap hari ditontonnya.

TV atau televisi bukan lagi barang mewah. Hampir setiap rumah di Jakarta, punya TV. Berbagai stasiun TV swasta menayangkan  beragam acara, mulai subuh hingga dini hari. Menurut sebuah penelitin, rata-rata warga Indonesia menghabiskan 50 jam setiap minggunya di depan layar TV.  Itu hampir sepertiga waktunya dalam seminggu.

Sementara anak-anak Indonesia, rata-rata menghabiskan waktu 4 hingga 5 jam per hari untuk menonton TV. Di hari libur, angka itu naik hingga 10 jam sehari. Bisa dibayangkan, bagaimana tayangan TV menjadi informasi utama, yang memenuhi pikiran, membentuk perasaan dan mempengaruhi perilaku masyarakat, khususnya anak-anak.

Namun, apa jadinya jika tayangan yang tersedia, hanya berisi mimpi-mimpi, kekerasan, mistik, tahyul, miskin nilai-nilai moral tapi kaya dengan gaya hidup konsumtif dan jawaban-jawaban instan ?

Sebut saja sinetron berjudul Legenda, yang ditayangkan di Trans TV setiap hari pukul 19.30 Ia mengadopsi dongeng-dongeng dan legenda kuno dari berbagai daerah. Dongeng-dongeng pengantar tidur yang diceritakan para orang tua kepada anaknya. Saya masih menyimpan beberapa dongeng tersebut dalam ingatan. Salah satunya, tentang kakak beradik Bawang Merah dan bawang Putih. Cerita ini indah, memberikan pelajaran moral, agar kita hidup sederhana, sabar dan tidak sombong.

Tapi, di Sinetron Legenda, cerita itu menjadi terbalik. Nilai-nilai moral dalam dongeng aslinya  berubah kelakuan penuh intrik – yang kadang tak masuk akal, gaya hidup mewah hingga perebutan kekuasaan antara  si baik dan si jahat yang terkesan dilebih-lebihkan.

Sinetron lainnya, tak jauh beda. Sinetron yang mendapatkan rating tinggi di hati pemirsa, kualitasnya serupa. Mereka lebih banyak mempertontonkan gaya hidup mewah, berebut pacar di usia dini – bahkan dengan cara yang paling culas hingga seks bebas usia remaja dan hamil usia dini.

Bagaimana tayangan lainnya? Reality Show utuk anak? lebih parah lagi. Sebut saja acara musik bertajuk Idola cilik. Ide awalnya cukup bagus, menjaring dan mengembangkan bakat anak. Tapi mari kita cermati pilihan lagu-lagu yang dinyanyikan. Ada Arjuna mencari cinta milik Dewa 19.  Ada lagu Matta Band, judulnya Kamu ketahuan pacaran lagi. Juga lagu-lagu orang dewasa bertema cinta hingga perselingkuhan. Lagu-lagu itu dinyanyikan anak-anak berumur dibawah 12 tahun, yang mendapatkan tepuk tangan meriah penonton dan Juri, yang semuanya dewasa. Tak ada lagu balonku ada lima, Naik-naik ke puncak gunung, apalagi  Aku ini si gembala sapi.
Apa pilihan lainnya? Film kartun? Ya, ini favoritnya anak-anak tentunya. Biasanya ceritanya ringan dan menghibur. Tapi tunggu dulu. Masih ingat kisah tewasnya Revino, anak umur 10 tahun, siswa kelas IV SD di Semarang awal tahun?
Revino tewas diduga karena meniru gaya Naruto di film kartun remaja  berjudul “Naruto”,  yang ditayangkan Global TV setiap hari tiap pukul 5 sore Ini mengingatkan kita pada tayangan berjudul “Smackdown” di Lativi, yang akhirnya dihentikan. Ternyata banyak anak kecil yang meniru kekerasan dan perkelahian yang dipertontonkan disana hingga berujung kematian.
Film kartun yang terkenal dan digemari anak-anak, macam Sponge Bob Square Pans dan Crayon Sincan, kurang lebih sama. Mereka juga banyak mengajarkan perilaku anti sosial, bahasa yang buruk dan kekerasan, dibanding unsur yang mendidik. Besarnya pengaruh itu terjadi karena usia anak-anak, merupakan fase meniru. Anak-anak dan remaja adalah peniru ulung. Dan karenanya, mereka cenderung meniru adegan yang ditonton di TV.
Salah satu laporan AC Nielsen (lembaga riset media audience)menyebutkan bahwa 55 persen pemirsa televisi adalah perempuan usia 10 – 24 tahun. Dari jumlah tersebut, 27 persennya siswa SMA dan 20 persen siswa SD. Angka ini mungkin bisa menjelaskan, mengapa angka aborsi di kalangan remaja disini sangat tinggi. Ada seratus remaja per hari melakukan aborsi. Tentu, Kemudahan informasi, mulai dari tayangan TV, DVD, internet yang mudah mengakses situs porno perlu dilihat perannya.

Dari pengamatan penulis, setidaknya ada 10 cara, bagaimana tayangan TV mempengaruhi perilaku dan sikap anak.

1.    Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan

2.    Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan sasaran produk yang diiklankan di televisi. Iklan-iklan itu mendorong mereka menjadi konsumtif

3.    Berpengaruh terhadap Sikap
Anak yang belum memiliki daya kritis tinggi, tapi menghabiskan banyak waktunya untuk menonton TV, besar kemungkinan mudah terpengaruh oleh isi tayangan TV. Mereka bisa berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. Coba disederhanakan

4.    Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi sederhana, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.

5.    Membentuk pola pikir instan dan sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

6.    Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan. Ini  akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.

7.    Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

8.    Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

9.    Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV.

10.    Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya sehingga anak-anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya.

Hal-hal diatas, tak lepas dari sistem dan struktur  penyiaran yang sepenuhnya belum berubah dalam memperlakukan ruang publik, sesuai tuntutan reformasi dalam memenuhi hak atas aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tayangan televisi kita masih tergantung pada para pemodal, Mereka berperan besar dalam menentukan tayangan.  

Ketika program TV lebih menonjolkan nilai komersialnya, ketimbang pesan moral, apalagi soal pendidikan, maka jangan heran setiap tayangan-tayangan yang akan berdampak negatif, malah dinilai mampu meningkatkan rating, sehingga memiliki nilai jual bagi para pemasang iklan. Keadaan semacam ini memang tidak dapat dihindarkan mengingat TV di Indonesia mengantungkan hidupnya dari hasil iklan. Oleh karena itu, atas nama rating, mereka berlomba-lomba menayangkan program-program yang jauh dari nilai pendidikan. Tujuannya tidak lain adalah demi pencapaian target setoran perusahaan.

Dimana fungsi kontrol ? Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang seharusnya mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran, bahkan ”kalah gertak” dengan stasiun-stasiun TV. Kita belum pernah mendengar ada stasiun TV yang dicabut izin penyiarannya. Jangankan itu, rasanya kita jarang mendengar sebuah tayangan, sinetron misalnya, ditarik penayangannya karena ditegur oleh KPI. Mengingat sangat buruknya dampak Program TV yang tidak mendidik terhadap mentalitas masyarakat dan mempengaruhi pola pikir anak, sudah saatnya kita lebih kritis dan mendorong KPI  untuk bisa bertindak lebih tegas.

Pada akhirnya kita sebagai penonton di tuntut untuk lebih kritis memilih tayangan TV yang akan di tonton . Dengan begitu, kita bisa menjadi konsumen yang bijak. TV dapat kita posisikan sebagai “alat bantu” meningkatkan kualitas hidup, bukannya malah membuat anak-anak berpikir instan, serba mudah, dan hanya jadi “pembantu” yang mendongkrak rating untuk para pengiklan dan stasiun TV. Komplain masyarakat melalui surat / tertulis kepada KPI terhadap tayangan yang bermasalah di TV, mengirimkan surat pembaca di media cetak, seruan-seruan lewat milist-milist, bahkan mengajukan komplain/somasi langsung ke TV yang bersangkutan bisa menjadi pilihan untuk menyuarakan hak publik terhadap kualitas tayangan TV Kita.

Maret 2008
By Vonny Novita

Posted by ecosisters at 11:44:08 | Permalink | Comments (3)

Belanja Hemat dan Hijau

Jika akhir pekan ini anda libur total, silahkan dicoba sebuah hal kecil yang bisa menyumbang perubahan besar untuk anda, bahkan juga untuk bumi tercinta. Sebuah proyek sederhana. Membuat daftar inventarisasi semua barang yang anda punya. Semua barang. Termasuk jumlah kaos hitam dan celana bermuda yang ada di lemari, judul-judul DVD yang rusak karena malas mencoba pas sedang beli, barang-barang kecil serba lima ribu yang menarik ketika masih di toko namun akhirnya teracuhkan berdebu di lemari atau kolong tempat tidur, serta karpet yang ternyata warnanya tidak terlalu sesuai dengan tema kamar. Cukup terkejut melihat panjangnya barang dalam daftar?

Tanpa disadari perilaku konsumerisme, sebuah perilaku dimana rasa senang ditimbulkan dengan membeli dan mengkonsumsi barang, semakin menjangkiti masyarakat Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta. Konsumerisme sering disalahartikan sebagai penggila belanja barang mewah. Beberapa pelakunya bisa berkelit dari tudingan ini dengan dalih tidak pernah membeli barang berharga selangit di pertokoan mentereng. Namun, tumpah ruahnya manusia di bazaar sepatu Charles and Keith yang memberikan diskon sampai 70%, berjejalnya ibu-ibu muda berbusana kantoran di tempat mainan anak Sogo Jongkok yang berlokasi dibelakang Plaza Mandiri, serta berlembar-lembar brosur pengajuan kredit tanpa bunga untuk mini compo terbaru mematahkan penyangkalan tersebut.

Walaupun konsumerisme erat dikaitkan dengan negara maju, namun perilaku ini tidak lekang oleh budaya maupun letak geografis. Hampir seluruh masyarakat di kota besar diberbagai pelosok dunia mulai terjangkit sifat konsumerisme dimana mereka mulai membeli banyak barang melampaui kebutuhan mereka. Amerika dan negara-negara Eropa sudah mengalaminya sejak beberapa dekade yang lalu. Namun pada 2004, hampir setengah pembelanja tinggal di negara berkembang, termasuk 240 juta di China dan 120 juta di India. Mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar setelahnya, maka Indonesia berpotensi untuk menyumbang angka besar untuk jumlah pembelanja.

Kondisi sekitar adalah faktor utama yang bisa membangkitkan kebiasaan berbelanja yang berlebihan ini. Majunya media informasi mengurangi batas setiap orang untuk memperhatikan gaya hidup orang lain. Tengok saja berbagai media baik cetak maupun audiovisual yang didominasi oleh tayangan gaya hidup para artis baik yang jelas terlihat di infotainmen atau yang tersirat dari berbagai judul sinetron. Setiap hari mereka membanjiri para penonton dengan kebiasaan berganti-ganti produk dengan mudah. Bahkan pepatah mengejar ilmu sampai ke negeri China bergeser menjadi mengejar merk terkenal sampai ke negeri China.

Berbagai contoh yang menggiurkan ini didukung juga oleh kebijakan yang dikeluarkan berbagai lembaga finansial untuk mempermudah konsumennya belanja dengan memperkenalkan konsep berhutang atau kartu kredit. Mengajukan aplikasi kartu kredit kini sama mudahnya dengan menemukan tukang nasi goreng dibawah jembatan penyeberangan. Apalagi jika sudah memegang satu kartu kredit, dijamin kartu kredit dari bank lain akan mudah tiba ditangan.

Tidak berhenti sampai disitu, selanjutnya para pemegang kartu kredit akan dibanjiri promosi kenaikan pagu kredit, berbagai barang yang bisa dicicil sekian bulan dengan bunga 0%, serta diskon sampai 70% di gerai pakaian tertentu. Semuanya membuat konsumen semakin tergoda untuk menggesekkan kartu kredit dengan alasan kapan lagi dapat diskon besar. Alasan utama untuk belanja karena benar-benar membutuhkan suatu barang seringkali tergeser menjadi prioritas kesekian.   

Dampak yang paling jelas dari kebiasaan ini adalah alokasi dana belanja menjadi kacau balau. Rencana jangka panjang untuk berinvestasi menjadi terkalahkan oleh keinginan jangka pendek yang menguras dompet dan tabungan. Namun, ada dampak yang lebih jauh lagi dari itu. Kritik yang sering terlontar untuk konsumerisme adalah bahwa masyarakat yang konsumeris lebih rentan terhadap kerusakan lingkungan, mempercepat terjadinya perubahan iklim, dan menggunakan sumber daya lebih besar dibandingkan masyarakat lain.

Ada sebuah metode perhitungan yang dinamakan ecological footprint, jejak kaki ekologis. Metode ini akan menghitung berapa banyak sumber daya alam yang kita gunakan selama menjalankan gaya hidup kita sehari-hari, termasuk juga sampah yang mungkin dihasilkan yang tentunya terkait erat dengan kebiasaan berbelanja.Sebuah kuis mudah yang bisa didapatkan di berbagai situs hanya dengan memasukkan kata kunci. Dengan mencoba kuis ini, kita bisa melihat berapa banyak kita sudah menguras sumber daya alam yang terkandung di bumi dan berapa banyak bumi yang diperlukan jika semua orang menerapkan gaya hidup seperti yang kita jalani.

Tentunya, tidak ada solusi mudah untuk masalah ini. Beberapa usaha telah dicoba seperti pajak hijau, gerakan anti belanja, dan kebijakan untuk para produsen. Namun yang paling penting adalah, perubahan pola pikir setiap pribadi. Tujuannya adalah penyadaran bahwa peningkatan kesejahteraan tidak berarti mempunyai banyak barang, namun lebih ke peningkatan kualitas hidup dengan menggunakan sesedikit mungkin sumber daya alam. Mungkin beberapa tindakan kita terlihat biasa dan kecil. Namun, pernah membayangkan dampaknya ketika ada 1,7 juta orang yang tergolong sebagai pembelanja melakukan hal yang sama?

Merubah kebiasaan sederhana hanya perlu usaha yang sederhana pula. Reduce, reuse, recycle. Kurangi, gunakan kembali, daur ulang. Kurangi frekuensi belanja, selalu membuat daftar belanja agar fokus ketika memasuki toko dan tidak lapar mata. Gunakan kembali barang yang sudah dipunya, kalau perlu modifikasi sedikit baju-baju lama agar menarik dipakai. Kurangi juga sampah, jika masih ada sampah, cobalah untuk didaur ulang. Jika ke toko buku, selain cari novel, bisa dicoba berkunjung ke rak keterampilan untuk melihat cara-cara praktis memanfaatkan sampah sehari-hari. Kegiatan seperti ini banyak yang bisa dikembangkan menjadi penghasilan tambahan yang cukup memuaskan. Misalnya tas dari kemasan plastik, selimut kain perca, hiasan bunga dari sedotan, alat tulis dari kertas bekas, dan masih serentetan produk lain.

Satu orang sudah bisa berkontribusi banyak untuk menyelamatkan bumi. Merubah kebiasaan seringkali lebih mudah jika lingkungan kita melakukan hal yang sama.

Pernah dengar hari tanpa belanja atau buy nothing day? Kegiatan ini pertama kali dipopulerkan oleh Ted Dave sejak 1993. Mereka yang mendukung hari ini tidak akan melakukan jual-beli apapun selama 24 jam. Di Amerika Serikat dan Kanada, hari ini jatuh pada sehari setelah thanksgiving untuk meredam kebiasaan belanja ketika liburan. Beberapa komunitas di Indonesia juga sudah banyak yang menerapkannya pada hari sabtu di minggu terakhir bulan November. Untuk yang belum pernah dengar, cobalah ceritakan kebiasaan ini pada lingkaran terkecil kita, teman dan keluarga. Jangan lupa rumus perkalian, hal kecil namun dilakukan bersama-sama bisa memberikan dampak sangat besar. Anda mau mulai?  (Nduy)

Posted by ecosisters at 06:51:43 | Permalink | No Comments »

Secangkir Kopi dan Obat Kumur

Saya kembali lagi mengajar setelah empat tahun divakumkan. Buku-buku baru segera saya persiapkan. Satuan Acara Perkuliahan dipikirkan dengan matang. Saya bersemangat. Maklum empat tahun sudah otak kiri dan kanan tidak diaktifkan untuk membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa.  

     “Mengapa kamu divakumkan?” tanya Sosialiwati sore itu ketika kita sedang duduk minum kopi sore hari di Senayan City.

     “Karena mulut
saya bau,” jawab saya sambil
menegak kopi tubruk.

Menerawang. Otak saya mengambang ke sudut-sudut ruang kelas Universitas Cinta Pada Diri Sendiri empat tahun yang lalu. Dosen muda berbakat. Bergelar S-2 dengan segudang cita-cita. Kata orang, membagikan ilmu adalah kesempurnaan batin dan pahalanya dibawa sampai mati. Jika saya berada dalam ruang kelas, saya merasa menjadi raja yang dipuja dan disembah. Semua mata mahasiswa menatap kagum dan sedikit mengantuk, mencoba mendengarkan rentetan kalimat menerjemahkan angka menjadi sebuah arti dalam statistik. Pendidikan, ajar mengajar, learning, dan sharing menjadi hidup saya sampai pada akhirnya peraturan itu diberlakukan.

Peraturan menggunakan obat kumur berlaku ketika Bapak Dr. Menghajar Duniaku, SH, SE,MBA menduduki jabatan Rektor. Semua pegawai, dosen, hingga office boy diwajibkan menggunakannya. Agar universitas kami menjadi nomer satu. Masuk dalam daftar universitas andalan negara ini.  Sebagai universitas terbersih, terawat, dan tidak ada yang bau mulut. Terserah mau menggunakan merk apa. Betadine, Listerin, dll. Apa saja. Yang penting berkumur setiap hari. Di setiap ruangan dosen terpasang petunjuk penggunaan obat kumur. Jika tiga hari tidak berkumur maka Surat Peringatan Pertama di keluarkan. Potongan gaji sudah pasti dilakukan. Jangan sampai surat peringatan ketiga muncul. Selamat tinggal dunia pendidikan, silahkan bekerja ditempat lain.

Beberapa dosen melakukan perlawanan karena tidak sejiwa dengan prinsip pendidikan yang terbuka. Berbicara apa adanya dan kejujuran adalah kewajiban dosen. Tetapi prinsip itu melawan dan menyalahi aturan pakai obat kumur. Di ruangan dosen-dosen tersebut diletakan obat kumur berdosis tinggi yang wajib dikumur setiap satu menit sekali. Jika masih ada penolakan, maka mereka akan mengalami hukuman divakumkan dari kegiatan ajar mengajar selamanya dari universitas ini.

Dunia pendidikan yang murni menjadi kusam. Saya juga tidak suka berkumur. Rasanya seperti membakar lidah dan tidak ada jaminan bahwa karang gigi bakalan hilang. Sekali dua kali saya tidak berkumur. Daripada merasa tersiksa mendingan saya melawan. Alarm ruangan saya sering berbunyi setiap pelanggaran dilakukan. Sekali dua kali alarm tersebut tidak digubris oleh penjaga keamanan kampus. Tetapi ketika memasuki bulan ketiga dan alarm itu terus berbunyi, penjaga keamanan berdatangan dan dengan pentungannya memaksa saya berkumur. Saya meronta dan menolaknya.

Peraturan tetap peraturan, kata beberapa pejabat kampus ketika siang itu diadakan proses pengadilan kecil terhadap pelanggaran obat kumur. Tidak ada alasan tidak berkumur, kata mereka lagi. Pendidikan jangan disamakan dengan pasar rakyat yang tidak berbudaya karena penampilan tidak dipedulikan dan kata-kata tidak harus disaring. Orang yang berpendidikan tidak asal buka mulut. Harus dipikir, dicerna, disaring, dan diintisarikan. Jangan nodai ketenangan dengan bau tak sedap yang keluar dari mulut orang berilmu. Teriak mereka lagi. Membuat kepala saya berputar. Dunia pendidikan menjadi makin gelap dan saya pingsan.

     “Bukannya kamu sudah berkumur dengan Betadine?” suara Sosialiwati menyentak saya.

Samar rangkaian cerita empat tahun yang lalu memudar kembali ke detik ini. Saya meminum kopi tubruk yang tinggal setengah cangkir dan sudah dingin seperti hati saya.  

     “Iya. Makanya saya mengajar lagi,” jawab saya. Meneguk kopi tubruk yang tinggal ampas.

Maret 2008
oleh: Catharina Dwihastarini

Posted by ecosisters at 05:45:18 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, March 26, 2008

Hari tanpa Nasi

Seorang anak SD bunuh diri di Magetan, Jawa Timur, dua pekan lalu. Pada pekan yang sama, seorang ibu yang tengah hamil dan anaknya ditemukan tewas di Makassar diduga akibat kelaparan.   Lima anak balita tewas karena busung lapar di Rote Ndao, NTT dalam tiga bulan terakhir.  Cerita sedih semacam ini makin sering kita dengar belakangan ini.  

Apa sebenarnya yang terjadi? Harga pangan, terutama beras, memang meroket tajam dalam beberapa bulan terakhir. Dari Rp 4.500/kg di awal tahun 2008, beras berkualitas sama naik harganya menjadi Rp 5.000/kg.  Produksi beras di beberapa daerah Indonesia merosot akibat banjir dan perubahan iklim.  

Peristiwa sedih seperti di Magetan, Makassar atau Rote Ndao tidak perlu terjadi jika masyarakat tidak sangat tergantung pada beras.   Menurut data BPS, saat ini kebutuhan beras Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 139 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan konsumsi beras tetangga kita Malaysia, yang hanya 80 kg/kapita/tahun dan Thailand 90 kg/kapita/tahun.  Di tengah himpitan harga-harga yang makin melambung, masyarakat menjual umbi-umbian hasil kebunnya untuk membeli beras.   Padahal, perlu 3-5 kg umbi untuk mendapat 1 kg beras.   

Makin lama, tergantung pada beras adalah pilihan yang makin tak terjangkau.  Di pasar dunia, beras makin mahal akibat menurunnya suplai dan muncul ide agar Indonesia bisa mengekspor beras (Kompas, 24/3/2008).  Harga beras bisa tambah naik lagi.    Promosi “Hari tanpa Nasi” bisa menjadi solusinya.  

Beras hanya satu saja jenis makanan utama. Ada banyak jenis hasil pertanian yang bisa menjadi alternatif beras, misalnya sukun, jagung, sagu, keladi, talas, singkong, kentang, pisang dan ubi.  Bagaimana dengan kandungan gizinya?  

Beras mengandung 360 kalori, 78,9 gram karbohidrat, dan 6,8 gram protein.  Dalam kondisi segar, kandungan gizi singkong, ubi jalar, kentang dan umbi lainnya, memang lebih rendah daripada beras.  Tetapi kandungan gizi ini akan meningkat jika umbi-umbian dikeringkan, dijadikan tepung, atau dicampurkan dengan pangan lain seperti kacang-kacangan.  

Sukun segar misalnya, mengandung 108 kalori, 28,2 gram karbohidrat, dan 1,3 gram protein.  Sukun dalam jumlah yang sama, jika dibuat tepung,  menghasilkan 302 kalori, 78,9 gram karbohidrat, dan 3,6 gram protein.  Selain itu, sukun mengandung kalsium dan kalium yang jauh lebih tinggi daripada beras.  Ubi jalar mengandung vitamin A, beta karoten,dan  vitamin C sedangkan beras tidak.  Selain itu, ubi jalar tergolong lambat meningkatkan kadar gula darah sehingga cocok untuk penderita diabetes.  

Hasil-hasil pertanian selain beras tersedia di banyak daerah, dan tidak memerlukan lahan luas.  Ubi jalar termasuk tanaman penghasil karbohidrat yang paling produktif.  Di masa lalu, terutama di pedesaan, orang menanam ubi, singkong dan keladi di kebunnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Di NTT ada jagung pulut, sejenis jagung lokal yang pulen seperti beras ketan dan manis.    Masyarakat di Pulau Yapen, Papua, memiliki sistem berkebun yang mendukung ketahanan pangan keluarga.  Ada berbagai jenis umbi dengan fungsinya sendiri-sendiri, mulai dari untuk makanan pokok, makanan balita, sumber obat, hingga makanan ternak, juga pisang dan sagu.  

Namun, bersama berlalunya waktu, singkong dan ubi dipandang sebagai makanan rendahan dan tidak bergizi, bahkan sering dipandang sebagai simbol kemiskinan. Pada masa Orde Baru juga ada kebijakan pemerintah yang keliru menyeragamkan jenis pangan utama ini. Masyarakat di Maluku dan Papua yang dulu menyantap sagu dan ubi, kini terbiasa dan makin tergantung pada nasi.    Anggapan bahwa belum makan kalau belum makan nasi membuat kampanye diversifikasi pangan yang sudah didengungkan beberapa dekade ini seperti angin lalu.   

Para peneliti telah memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa sukun, umbi-umbian, sagu, dan yang lainnya tak kalah bergizi dibandingkan dengan beras.  Balai-balai penelitian dan pengembangan pertanian telah mengembangkan teknologi pengolahannya, menjadi mi sagu, tepung ubi jalar, tiwul instan, dan lain-lain.     Dewan Ketahanan Pangan di Yogya bersama kelompok pangan lokal, secara rutin membuat lomba kreasi menu non beras yang beragam, bergizi, dan berimbang.   Menunya menitikberatkan pada sumber protein, seperti kacang-kacangan, ikan, hingga belalang, juga sayuran dan buah-buahan lokal.   Lalu, mengapa kita masih juga berat ke beras (dan mi)?.

Mengurangi makan beras adalah persoalan mengubah gaya hidup dan pola makan.  Masyarakat kota besar, yang biasa menjadi trend-setter, maupun kita-kita yang sudah lebih leluasa membuat pilihan-pilihan, bisa memeloporinya.  Pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama mempromosikan ”Hari tanpa Nasi”, sebagai gaya hidup sehat dan bijak.  Keluarga bisa menjadikan satu hari dalam seminggu sebagai hari petualangan kuliner. Hari itu akan diisi dengan menu tanpa nasi,  berlauk-pauk sehat, segar, dan berbahan baku lokal.   Andaikan 25% saja penduduk Indonesia mau menjalankan ”Hari tanpa Nasi” sekali seminggu, dengan asumsi tiap orang membutuhkan 0.1 kg beras untuk sekali makan, maka Indonesia akan hemat beras sebanyak  800 ribu ton setahun.  

Tak perlu menderita.  Kreasi menu tak hanya untuk makanan pokok, tetapi lauk-pauk, hidangan penutup, camilan, dan minuman.  Beberapa jenis makanan yang sudah populer misalnya tempura (terbuat dari tepung ubi jalar), jeli konjaku (terbuat dari suweg), bakso dan soun (terbuat dari tepung tapioka),  biskuit bayi dan semprit (terbuat dari pati garut).  Pakar gizi dan kuliner seperti Ibu Tuti Soenardi giat memuat hasil kreasi menu sehat berbahan dasar tepung ganyong, tepung sukun, pati garut, dan tepung jalejo (campuran jagung, kedelai, dan kacang hijau) di media cetak (Kompas, 17/2/2008 dan 16/3/2008). Berbagai kreasi baru tak kalah eksotis dan nikmat, misalnya talas tumbuk (puree), perkedel kacang merah, puding ganyong, kroket sukun, eclair tepung ganyong,  brownies ubi jalar, cocholate chip dari pati garut dan es krim uwi.

Mengurangi ketergantungan pada beras tak sekedar urusan angka.  Ini menyangkut pilihan hidup bertanggung jawab dan berdaulat.  Penduduk dunia makin bertambah, kebutuhan sumberdaya makin banyak, lahan produktif menyusut, dan beban bumi makin berat.  Dengan mengandalkan sumber pangan yang tersedia di lokal dan tak tergantung pangan impor berarti makin bebas kita membuat pilihan.   Diversifikasi pangan bisa berhasil jika bisa menjadi gaya hidup dan budaya, budaya hidup sehat tentunya.

26 Maret 2008
Christien Ismuranty

Posted by ecosisters at 04:50:08 | Permalink | Comments (3)

Nasib Pasar Tradional Kini

Pak Alimin hanya dapat termangu, karena hingga sore hari belum ada satu pun ikan dagangannya yang terjual. Sudah lebih dari 3 bulan pendapatannya turun drastis, sejak pasar modern dibuka di sebelah kios pasarnya.

Pak Alimin tidak sendiri, ada ribuan Alimin yang harus merugi karena kiosnya tidak lagi didatangi pembeli. Sejak pemerintah memberikan kemudahan kepada pengusaha untuk membangun pasar modern yang berdekatan dengan pasar-pasar tradisional. Saat ini saja sudah ada sekitar 191 pasar modern di Jakarta, baik itu swalayan, pusat perbelanjaann maupun hipermarker . Dan akan dibangun lagi sekitar 100 pasar modern dalam kurun waktu 1 tahun ini. Belum lagi Mini market-mini market yang berjualan sampai di ujung gang-gang kecil. Letaknya pun banyak yang berdekatan dengan pasar tradisional. Atau menempel persis di sebelah pasar tradisional.

Di Jakarta saja, dalam 3 tahun ini ada 8 pasar tradisional yang akhirnya ditinggal pedagangnya. Dan 4 pasar lagi yang akan menyusul, karena pembelinya hanya tinggal separuhnya saja. Sebut saja Pasar Kebon Jati, Pasar Mampang, Pasar Serdang, dan Pasar Grogol. Tidak kurang dari 400 toko di pasar tradisional harus tutup setiap tahunnya. Pedagang merugi karena pembelinya rame-rame berpindah menjadi pelanggan pasar modern.

Di Pasar Kebon Jati saja, dari 1.400 kios yang ada, saat ini hanya terisi 30 persen saja. Padahal pasar ini letaknya cukup strategis. Para pembeli lebih tertarik membeli di pasar modern, yang ada di sebelah Pasar Kebon Jati.

Saat ini, di Jakarta ada 51 pasar tradisional yang berdekatan dengan pasar modern. Seperti Pasar Mede, Pasar Pondok Pinang, Pondok Indah berdekatan dengan Carrefour dan Giant Lebak Bulus. Di Cempaka Mas, Carrefour berdekatan dengan Pasar Cempaka Putih, Pasar Gembrong dan Pasar Sumur Batu. Jaraknya kurang dari 2,5 km, jarak yang tidak diperbolehkan oleh aturan pemerintah.

Memang, pasar modern memberikan pelayanan yang lebih kepada para pembelinya. Tempatnya yang bersih, ruangan yang dingin, dagangannya yang lengkap dan teratur, membuat pembeli betah berlama-lama memilih barang kebutuhannya. Membeli dengan kartu kredit pun bisa dilakukan. Pembeli pun tidak perlu khawatir akan terperosok harganya, karena harga sudah tertera dengan jelas.

Namun, bukan berarti lantas pasar tradisional begitu saja dimatikan. Pasar tradisional tidak hanya menghidupi para pedagang. Di sana ada buruh angkut, buruh pengupas, karyawan kios, penjaga pasar, tukang parkir, yang semuanya bertumpu pada pasar. Saat ini saja, ada 80.000 pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional di Jakarta. Tentu angka semakin besar jika dihitung dengan orang yang menggantungkan hidupnya dari setiap pedagang.

Banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk membantu membangkitkan pasar tradisional. Membenahi kondisi pasar tradisional adalah yang utama. Tentu tanpa meninggalkan bantuan akses modal, informasi dan pasokan. Juga membenahi sistem sewa, yang tetap memperhatikan pedagang lama di pasar tersebut.

Pemerintah pun harus tegas, dengan tata ruang yang telah dibuatnya. Perlu dihitung berapa jumlah pasar modern yang diperbolekan di satu wilayah, dengan memperhatikan jarak dengan pasar tradisional.

Jakarta hanya salah satu contoh. Pasar tradisional di kota-kota lain pun mengalami nasib yang sama. Sudah seharusnya izin-izin pembangunan pasar modern ditinjau kembali, dan tidak perlu lagi mengeluarkan izin pembangunan pasar modern yang baru. (Luluk Uliyah)

Posted by ecosisters at 04:48:24 | Permalink | Comments (1) »