Monday, November 6, 2006

Writing is Rewriting

Universitas Bina Nusantara dan Blizz Production pada Sabtu, 4 November 2006 yang lalu mengadakan Workshop sehari mengenai ‘Kiat Sukses Menulis Skenario’ di Kampus Anggrek, Kemanggisan yang lebih mirip mall daripada kampus. Yang menjadi pembicara adalah Salman Aristo, penulis skenario untuk beberapa film remaja yang sudah mulai bermunculan kembali setelah sempat redup selama beberapa tahun. Hasil karya Salman Aristo antara lain film Catatan Akhir Sekolah, Brownies, Jomblo, dan Alexandria yang soundtracknya dinyanyikan oleh Peter Pan.

 

Seminar sehari tentunya tidak akan merubah seorang yang  gagu mendadak bisa lancar berbicara. Namun beberapa penjelasannya cukup inspiratif untuk menggugah terutama untuk mereka yang memang berminat dan berhubungan dengan bidang tulis-menulis.

 

Ide, dimanakah dikau berada?

Pertanyaan klasik untuk para penulis adalah, ‘Kamu dapat ide darimana sih?’. Jawabannya juga akan klasik, ‘Dimana-mana juga ada kok’. Bisa dari cerita sahabat, rubrik psikologi di majalah, artikel koran, masa lalu, perjalanan ke kantor, dan masih banyak lagi. Yang bisa menjadi modal untuk mencari ide tersebut adalah dengan melepas kacamata kuda untuk melihat suatu kasus sebagai hal yang biasa-biasa saja, dan mulai memandangnya sebagai sesuatu yang menarik. Pertanyaan, ‘What if?’ bisa menjadi katalisator untuk menggali ide dan membuat sesuatu yang sederhana bisa menjadi lebih menarik.

 

Misalnya adalah untuk suatu kasus sederhana seperti pada film ‘Click’ yang dibintangi oleh Adam Sandler. Film tersebut bercerita mengenai remote control yang dijamin kebanyakan orang pasti pernah pegang. Namun dengan didukung pikiran yang imajinatif maka film tersebut bisa menjadi film yang sederhana namun menggugah bahkan bisa mengajarkan nilai-nilai sosial tanpa harus bersusah payah memberikan dialog-dialog panjang dan berat.

 

Hati-hati juga agar tidak terlalu terjebak mencari ide yang baru dan melupakan hal yang penting lainnya yaitu tujuan akhir. Terkadang entah karena egois atau harga diri sering kali penulis terjebak dengan kalimat, ‘masa sih buat tulisan yang gitu-gitu aja?’. Lalu dicarilah tema-tema ‘ajaib’ sekelas Water World dan Harry Potter yang kadang mengakibatkan mampet ide dan berakhir dengan tidak jadi menulis. Coba lihat film ‘Family Stones’, ‘Children of Heaven’ atau sitkom ‘Friends’. Mereka mengusung tema-tema sederhana yang jika diceritakan dengan sudut pandang yang imajinatif dan dialog-dialog smart maka akan menjadi film yang baik pula.

 

Yang penting adalah untuk berpegang teguh kepada ide yang sudah dimiliki, dan tentukan 3 bagian utama yaitu awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian sudah ada pegangan untuk pengembangan cerita dan yang jelas sudah paham akan tujuan akhirnya sehingga tulisan yang dibuat akan terus mengacu kesitu.

 

‘Writing is Rewriting’

Penyakit utama yang biasa menjangkit di kalangan para penulis adalah malas dan ingin agar tulisannya langsung ada yang menghargai. Hal ini termasuk juga kepada para penulis proposal dan laporan. Satu kutipan yang menarik dari seminar tersebut adalah ‘Writing is rewriting’, yang harus menjadi semboyan para penulis. Sebuah tulisan ternyata memang akan mengalami metamorfosis yang sempurna setelah ditulis ulang dan ulang lagi. Apalagi jika ditambah dengan hasil diskusi dari pihak-pihak yang terkait. 

 

Seorang penulis skenario yang sudah berpengalaman seperti Salman saja akan menulis skenario sampai 6 bahkan ada yang sampai 12 draft sampai akhirnya skenarionya bisa dikatakan sempurna. Itupun tidak mengurangi kemungkinan untuk dirubah lagi pada saat eksekusi produksi.

 

Prosesnya adalah setelah suatu draft jadi, draft tersebut dibawa ke Sutradara dan Produser untuk kemudian dibahas apakah layak tayang maupun tidak. Tidak jarang draft tersebut dicoret semua atau hanya diambil 10 halaman terakhir dari 127 halaman yang dibuat. Jika ego yang berbicara, maka tentunya seorang Penulis berhak untuk marah karena karyanya diobrak abrik. Namun jika melihat kepada tujuan akhirnya yaitu membuat sebuah film yang merupakan hasil karya bersama, penulis harus bisa saling memahami dan menjembatani antara penulis, sutradara dan produser.

 

Adaptasi

‘Bagusan mana? Filmnya atau novelnya?’ Pertanyaan itu ternyata tidak relevan sama sekali karena seperti membandingkan apel dan jeruk. Untuk kasus ini, pedoman yang harus dipegang teguh oleh para adaptor adalah, ‘You don’t owe anything to the previous work’. Lepas dari masalah legalitas, proses adaptasi bisa dilakukan bebas sesuai dengan imajinasi penulis yang baru. Sebuah ide tidak akan bisa dibuat sama persis, apalagi dalam dua media yang berbeda.

 

Sebuah adaptasi yang baik adalah ketika penonton bisa mengerti maksudnya tanpa harus pernah membaca karya sebelumnya. Sebuah adaptasi yang baik adalah adaptasi kreatif sehingga penonton menjadi tertarik dan terlena dan tidak punya kesempatan untuk membandingkan hasil adaptasi dengan karya sebelumnya.

 

Kaitan dengan Dunia LSM

Apakah hal ini berlaku juga untuk para penulis proposal atau laporan yang tidak bersifat entertainment atau hiburan? Jawabannya tentu saja iya. Apakah para penulis proposal tidak memerlukan ide untuk menentukan tujuan akhir proposalnya akan dibawa kemana? Apakah para penulis laporan tidak harus menulis ulang dan ulang laporannya sesuai dengan keinginan pihak Donor? Oleh karena itu, tips ini efektif juga untuk anda yang merasa tidak berhubungan dengan dunia entertainment tapi kerap menulis berlembar-lembar dokumen di komputer mereka juga.

 

Namun, tidak menutup kemungkinan juga bagi anda yang ingin banting setir dan mencoba wilayah ini. Bisa dimulai dari menonton film-film dengan dialog-dialog smart atau melihat dari kejadian sehari-hari yang pasti para penulis skenario itu hanya bisa mengetahui tidak secara first hand seperti anda. Selamat mencoba!

Posted by ecosisters at 03:41:44 | Permalink | Comments (3)

Ecosale: ketika para perempuan berjualan

Lapangan Sempur Kaler yang berlokasi di sekitar kantor Forest Watch Indonesia (FWI) Bogor pada Sabtu, 14 Oktober 2006 yang lalu terlihat ramai oleh tenda-tenda hijau dan putih, diselingi dengan warna-warna oranye dan hijau terang yang bertuliskan ‘Ecosale: tetap keren dengan barang second hand’.

‘Salah satu tujuan Ecosale adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa barang bekas yang masih layak pakai itu sebenarnya tidak hanya identik dengan kalangan bawah. Kita masih bisa keren juga kok pakai barang second hand’, begitu ujar Mai, salah satu anggota Ecosisters, organisasi yang memotori acara Ecosale ini. Berdiri pada tahun 2005 yang lalu atas inisiatif sekelompok kecil aktifis perempuan, Ecosisters yang memiliki semboyan Kelompok Perempuan Peduli ini sudah memiliki jumlah anggota 70 orang.

Selain barang bekas layak pakai yang merupakan koleksi dan sumbangan anggota Ecosisters yang berhasil dikumpulkan dalam waktu sebulan saja, nampak juga ada sembako dan sayur-sayuran yang ditujukan bagi warga sekitar yang memerlukan. Walau terpisah jarak antara Bogor dan Jakarta dan disibukkan dengan aktifitas pekerjaan masing-masing, Ecosale berhasil diselenggarakan dengan baik dengan tatanan yang menarik. 

Tenda paling ujung berwarna putih berisi makanan-makanan yang menggoda selera apalagi di siang terik bulan puasa seperti saat itu. Resoles, black forest, lupis, dan aneka jajanan pasar seperti menggapai-gapai untuk dibeli. Namun untuk mereka yang berpuasa, kue kering di toples, kletikan, sampai beras kencur dan madu siap untuk dibawa pulang dan disantap selepas magrib ataupun ditunda sampai lebaran nanti. Tenda yang lain berisi sembako dan kebutuhan dapur, baju-baju bekas layak pakai, peralatan rumah tangga sederhana, aksesoris, pernak-pernik, dan lainnya. Tidak ketinggalan, ada satu stand yang menyajikan pameran foto sederhana bertema ‘Perempuan, Anak, dan Lingkungan’.

Animo masyarakat terlihat cukup positif. ‘Wah saya tadi sempat bingung juga, barangnya belum sempat didisplay semua tapi warga disekitar sini sudah pada menyerbu untuk belanja’, komentar Devi, koordinator acara Ecosale. Seorang Ibu warga sekitar juga bertanya kapan acara seperti ini diadakan lagi. Menjelang sore hari ketika barang-barang tinggal sedikit, seorang Bapak masih bertanya apakah Sembako masih ada atau tidak.

Berhubung para penyelenggara adalah kelompok perempuan, para anggota Ecosisters juga tidak ketinggalan untuk membeli barang yang dijual oleh teman-temannya sambil sibuk menjaga anak-anaknya yang berlari kesana kemari dan tentunya ngobrol-ngobrol untuk menyelenggarakan Ecosale tahap selanjutnya.

Posted by ecosisters at 03:05:13 | Permalink | Comments (2)