Writing is Rewriting
Seminar sehari tentunya tidak akan merubah seorang yang gagu mendadak bisa lancar berbicara. Namun beberapa penjelasannya cukup inspiratif untuk menggugah terutama untuk mereka yang memang berminat dan berhubungan dengan bidang tulis-menulis.
Ide, dimanakah dikau berada?
Pertanyaan klasik untuk para penulis adalah, ‘Kamu dapat ide darimana sih?’. Jawabannya juga akan klasik, ‘Dimana-mana juga ada kok’. Bisa dari cerita sahabat, rubrik psikologi di majalah, artikel koran, masa lalu, perjalanan ke kantor, dan masih banyak lagi. Yang bisa menjadi modal untuk mencari ide tersebut adalah dengan melepas kacamata kuda untuk melihat suatu kasus sebagai hal yang biasa-biasa saja, dan mulai memandangnya sebagai sesuatu yang menarik. Pertanyaan, ‘What if?’ bisa menjadi katalisator untuk menggali ide dan membuat sesuatu yang sederhana bisa menjadi lebih menarik.
Misalnya adalah untuk suatu kasus sederhana seperti pada film ‘Click’ yang dibintangi oleh Adam Sandler. Film tersebut bercerita mengenai remote control yang dijamin kebanyakan orang pasti pernah pegang. Namun dengan didukung pikiran yang imajinatif maka film tersebut bisa menjadi film yang sederhana namun menggugah bahkan bisa mengajarkan nilai-nilai sosial tanpa harus bersusah payah memberikan dialog-dialog panjang dan berat.
Hati-hati juga agar tidak terlalu terjebak mencari ide yang baru dan melupakan hal yang penting lainnya yaitu tujuan akhir. Terkadang entah karena egois atau harga diri sering kali penulis terjebak dengan kalimat, ‘masa sih buat tulisan yang gitu-gitu aja?’. Lalu dicarilah tema-tema ‘ajaib’ sekelas Water World dan Harry Potter yang kadang mengakibatkan mampet ide dan berakhir dengan tidak jadi menulis. Coba lihat film ‘Family Stones’, ‘Children of Heaven’ atau sitkom ‘Friends’. Mereka mengusung tema-tema sederhana yang jika diceritakan dengan sudut pandang yang imajinatif dan dialog-dialog smart maka akan menjadi film yang baik pula.
Yang penting adalah untuk berpegang teguh kepada ide yang sudah dimiliki, dan tentukan 3 bagian utama yaitu awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian sudah ada pegangan untuk pengembangan cerita dan yang jelas sudah paham akan tujuan akhirnya sehingga tulisan yang dibuat akan terus mengacu kesitu.
‘Writing is Rewriting’
Penyakit utama yang biasa menjangkit di kalangan para penulis adalah malas dan ingin agar tulisannya langsung ada yang menghargai. Hal ini termasuk juga kepada para penulis proposal dan laporan. Satu kutipan yang menarik dari seminar tersebut adalah ‘Writing is rewriting’, yang harus menjadi semboyan para penulis. Sebuah tulisan ternyata memang akan mengalami metamorfosis yang sempurna setelah ditulis ulang dan ulang lagi. Apalagi jika ditambah dengan hasil diskusi dari pihak-pihak yang terkait.
Seorang penulis skenario yang sudah berpengalaman seperti Salman saja akan menulis skenario sampai 6 bahkan ada yang sampai 12 draft sampai akhirnya skenarionya bisa dikatakan sempurna. Itupun tidak mengurangi kemungkinan untuk dirubah lagi pada saat eksekusi produksi.
Prosesnya adalah setelah suatu draft jadi, draft tersebut dibawa ke Sutradara dan Produser untuk kemudian dibahas apakah layak tayang maupun tidak. Tidak jarang draft tersebut dicoret semua atau hanya diambil 10 halaman terakhir dari 127 halaman yang dibuat. Jika ego yang berbicara, maka tentunya seorang Penulis berhak untuk marah karena karyanya diobrak abrik. Namun jika melihat kepada tujuan akhirnya yaitu membuat sebuah film yang merupakan hasil karya bersama, penulis harus bisa saling memahami dan menjembatani antara penulis, sutradara dan produser.
Adaptasi
‘Bagusan mana? Filmnya atau novelnya?’ Pertanyaan itu ternyata tidak relevan sama sekali karena seperti membandingkan apel dan jeruk. Untuk kasus ini, pedoman yang harus dipegang teguh oleh para adaptor adalah, ‘You don’t owe anything to the previous work’. Lepas dari masalah legalitas, proses adaptasi bisa dilakukan bebas sesuai dengan imajinasi penulis yang baru. Sebuah ide tidak akan bisa dibuat sama persis, apalagi dalam dua media yang berbeda.
Sebuah adaptasi yang baik adalah ketika penonton bisa mengerti maksudnya tanpa harus pernah membaca karya sebelumnya. Sebuah adaptasi yang baik adalah adaptasi kreatif sehingga penonton menjadi tertarik dan terlena dan tidak punya kesempatan untuk membandingkan hasil adaptasi dengan karya sebelumnya.
Kaitan dengan Dunia LSM
Apakah hal ini berlaku juga untuk para penulis proposal atau laporan yang tidak bersifat entertainment atau hiburan? Jawabannya tentu saja iya. Apakah para penulis proposal tidak memerlukan ide untuk menentukan tujuan akhir proposalnya akan dibawa kemana? Apakah para penulis laporan tidak harus menulis ulang dan ulang laporannya sesuai dengan keinginan pihak Donor? Oleh karena itu, tips ini efektif juga untuk anda yang merasa tidak berhubungan dengan dunia entertainment tapi kerap menulis berlembar-lembar dokumen di komputer mereka juga.
Namun, tidak menutup kemungkinan juga bagi anda yang ingin banting setir dan mencoba wilayah ini. Bisa dimulai dari menonton film-film dengan dialog-dialog smart atau melihat dari kejadian sehari-hari yang pasti para penulis skenario itu hanya bisa mengetahui tidak secara first hand seperti anda. Selamat mencoba!