iklan ini mengantarku pada satu kejadian : bencana banjir di Jember. Di
Kotaku, setidaknya sekitar 40 km dari rumahku. Nama tempatnya desa Kemiri,
kecamatan Panti. Terakhir dikabarkan Korban meninggal sedikitnya 107 orang,
dan ribuan mengungsi. Bencana datang menjelang malam, setelah hujan datang
tak berhenti. ratusan rumah, pasar , masjid dan lainnya rata terbawa arus
sungai bersama gelondongan kayu baik kayu lapuk tua hingga baru. memang tak
sedahsyat bencana Bohorok, dengan kayu yang gelondongan se gedong-gedong itu.
Ironisnya, pejabat negara ini secara berjamaah , mulai Bupati hingga
presiden menyatakan bahwa bencana datang karena kehendak Allah SWT,
penyebabnya hujan yang terus menerus, hutannya tidak ada yang gundul
menurut foto satelit. Masih utuh dan bagus. Ah….. aku jadi tak habis
bikir, sejak kapan Tuhan suka iseng mengirimkan bencana tanpa alasan,
bahkan tanpa tanda. Apalagi dengan kondisi lahan kawasan hulu yang rusak
berat. Maaf Tuhan, …….. yang paling aman dilakukan oleh pengurus negara
ini memang menyalahkan Mu. Entah Kau suka atau tidak !
Waktu sekolah dulu, aku sempat menelusuri sungai kaliputih (sungai yang
bajir tersebut), bersama Jack, adikku di MAPENSA, kami bersepeda
motor hingga jalan kaki menyelusuri sungai kali putih sekitar tahun 1999.
Waktu itu kami mencari tahu mengapa air sungai menjadi sangat putih
berpasir dan berbau seperti belerang busuk, selama beberapa bulan. Sumpah !
daerah sepanjang tepi sungai sangat indah dengan tebing-tebing tingginya.
Kami menjumpai hewan-hewan yang aneh, katak aneh berwarna hijau terang dan
bisa terbang, hingga puluhan pacet (lintah yang hidup di darat) penghisap
darah, air terjun dan beberapa bagian pasir hisap dipinggiran sungai.
Sayangnya kami tak bisa mencapai bagian paling hulu sungai, peralatan tidak
memadai. Kawasan huluuuuuu sungai ini adalah kawasan pegunungan hyang,
Argopuro. Tempat pecinta alam bermain , mengamati burung hingga melakukan
Diklat. Kawasan pegunungan bersejarah lengkap dengan patung dewi Rengganis
di puncaknya. Bagian yang aku suka di Argopuro adalah Cikasur. Savana datar
luas dan dingin, tapi dekat air dan selada airnya lezat tiada dua.
Darimana datangnya Banjir
sejak reformasi, kawasan diatas mengalami penjarahan kayu serius, kawasan
tersebut termasuk Cagar alam gunung Abang dan hutan lindung sekitarnya.
Tak hanya dikawasan ini. Hampir semua hutan jawa mengalaminya. Apa
penyebabnya ?
Ada beberapa hal, PERTAMA, paradigma memposisikan kawasan-kawasan
penyangga, baik yang berbentuk hutan lindung hingga Taman Nasional sebagai
kawasan yang tidak bernilai ekonomis bagi pengurus negara. Sehingga tak
perlu diperhatikan dan diurus dengan baik dan adil. Akibatnya kawasan “yang
dilindungi” ini seolah ada tetapi tidak dikelola dengan serius untuk
mendukung fungsinya. Kangan heran jika banyak warga tepi hutan banyak yang
hidup dibawah garis kemiskinan. Misalnya dengan pemilikan lahan rata-rata
dibawah 0,2 ha di sekiutar kawasan Taman Nasional meru betiri, sepertinya
tidak berbeda dengan kawasan lainnya. Bahkan sebagaian besar adalah buruh
tani. Akhirnya kawasan-kawasan ini diabaikan. Malah jika mungkin,
kawasan-kawasan ini dialih fungsi agar punya “nilai ekonomis”. Ingat
bagaimana rencana alih fungsi kawasan Taman nasional meru betiri menjadi
tambang emas skala besar, rencana pembangunan infrastruktur jalan lintas
selatan Jatim dan rencana-recana raksasa lainnya. Tanpa peduli daya dukung
lingkungan kawasan. Dilain pihak, kawasan-kawasan ini dijadikan dagangan
untuk mendukung berbagai “dagangan global” tentang “kepedulian ” terhadap
pelestarian ekosistem dan kawasan. Apa yang terjadi ? program-program
instan-lah yang banyak dipilih untuk mempopulerkan sebuah kawasan menjadi
lebih dikenal nama dan fasilitas yang disediakannya dibanding dikenal dan
disadari publik fungsi kawasan bersangkutan ataupun program bagaimana bisa
lebih mensejahterakan masyarakat sekitarnya. KEDUA, Ketidak adilan terhadap
rakyat sekitar kawasan penyangga ekosistem, yang dilarang mengakses
kawasan tersebut sejak berstatus dilindungi, bahkan untuk sekedar mencari
sayuran ataupun bambu dihutan. Sementara para cukong kayu dan aparat
pengelola kawasan hingga kepolisian dan tentara berpesta pora mengeluarkan
kayu-kayu dari kawasan. Saat reformasi tiba, rakyat dan oknum aparat pun
merasa bebas dan “bisa balas dendam”.
Sayangnya kebebasan ini kebablasan. Termasuk merasa bebas ramai-ramai
menebang kayu dan menanami tanahnya dengan tanaman semusim. Untuk apa ?
Untuk membiayai gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan orang kota,
televisi, radio dan perilaku pejabat serta selebritis negeri ini (termasuk
selebritis NGO lho). Mulai dari membeli sepeda motor, televisi hingga
pelesir ke kota untuk melihat “kemajuan”. Ini bisa di ibaratkan menggali
beramai-ramai kubur sendiri.
Dalam 4 tahun terakhir, sektidaknya hutan di Jember menyusut hingga 26%.
Kawasan cagar Alam gunung abang dan sekitar pegunungan Hyang memiliki
batuan dengan pelapukan tinggi dengan formasi batuan dengan tingkat
kekuatan tanah dan batuan rendah. sehingga kehadiran hutan peranan sangat
penting pada kawasan ini untuk menyeimbangkan proses pelapukan. Kondisi
tanah yang rentan, pada kawasan-kawasan dengan kelerengan tinggi dan
tutupan hutan berkurang akan beresiko bencana saat tak mampu menahan
tingginya intensitas dan curah hujan yang datang.
Penjarahan hutan di era reformasi disekitar Pegunungan Hyang dan CA Gunung
abang ini bahkan sempat di dokumentasikan oleh salah seorang dosen UNEJ.
Serombongan tim Dephut dari propinsi , juga pernah datang melakukan
investigasinya pada tahun 2003. telah diketahui kawasan tersebut hutannya
rusak Tapi tidak dilakukan tindak lanjut apapun. Mungkin karena tidak ada
proyek. tidak ada anggaran, kawasan penyangga, kawasan kering perhatian.
Kelompok PA Faperta Unej, MAPENSA, bahkan menemukan penyusutan
keanekaragaman burung sejak tiga tahun terakhir dikawasan pegunungan
Argopuro Hyang , setidaknya hingga 30 jenis setiap tahunnya. Angka yang
lumayan tinggi. Burung adalah indikator keamanan dan kenyamanan suatu
wilayah. Important Bird Area (IBA), merupakan kawasan-kawasan kaya jenis
dan jumlah burung yang umumnya berada dikawasan-kawasan ketinggian. salah
satunya Argopuro. berkurangnya jenis burung menunjukkan ada masalah dalam
jaring-jaring ekosistem dan rantai makanan dikawasan tersebut, atau dengan
kalimat pendek kawasan tersebut sedang mengalami gangguan serius, yaitu
perubahan habitat, terjadinya alih fungsi hutan.
Kawasan paling berhutan di Jawa
Jawa timur merupakan bagian pulau Jawa yang hutannya masih luas dan memilik
kawasan konservasi terbanyak, diantaranya lima buah Taman Nasional. Kawasan
Jember dan Banyuwangi adalah dua kabupaten yang kawasan hutannya paling
banyak di Jatim, sekitar 25%, dari 30% yang disyaratkan. Yang harus digaris
bawahi, kawasan-kawasan yang paling berhutan ini ternyata juga dikunjungi
bencana. Tanggal 20 desember 2005, di Banyuwangi, juga telah terjadi banjir
di Grajagan akibat rusaknya hutan dikawasan hutan lindung Grajagan yang
dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi selatan, 2 orang meninggal , puluhan
rumah rusak dan korbannya mencapai 130 KK , mulai yang rumahnya terendam
hingga warga yang megalami sakit kulit akibat lingkungan banjir.
Menyusul berikutnya tragedi di Jember.
Sepertinya tidak tepat lagi kita menyebutnya sebagai bencana alam, seolah
alam iseng menyebabkan bencana, alam lah yang salah. jika alam yang salah
biasanya Tuhan yang disalahkan. lebih tepat menyebutnya bencana ekologi.
Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak beres dan dibiarkan.
Irionisnya, pengurus negara dan rakyat menyikapinya seolah ini adalah
kejadian baru, dengan ritual yang sama. Kunjungan pejabat, penggalangan
bantuan dan tayangan derita di media. Padahal bencana banjir, sepaket
dengan longsor dan kekeringan berlangganan setiap tahun dan telah
meningkat sejak 5 tahun terakhir. Kawasan dengan intensitas banjir terbesar
adalah Jawa tengah dan Jawa Barat. menurut data Satkorlak, 2003, kejadian
banjir di Indonesia meningkat menjadi 236 kejadian banjir pada 26 propinsi
di Indonesia pada tahun 2003, dimana 20 kejadian diantaranya terjadi di
Jawa tengah dan 12 lainnya di Jateng dan 9 kejadian di Jatim. Angka
tertinggi di di Jawa.
Hutan-hutan di Jawa tengah dan Jawa barat sesungguhnya telah terlebih
dahulu di jarah, atau terlebih dahulu habis. Jawa timur sepertinya akan
menyusul menjadi langganan bencana banjir menyamai dua tetangganya yang
lain. Setidaknya dengan rusaknya kawasan hutan produksi dan hutan rimba di
barat pulau Jawa, maka Jawa timur yang kondisi hutannya masih “lebih baik”
akan berpotensi menjadi pemasok kayu bagi industri lokal maupun luar daerah
di pulau Jawa, baik dengan cara legal maupun ilegal. Jika dibandingkan
dengan potert pemenuhan kayu di Indonesia, tentu cara ilegal yang paling
banyak. Saat ini hanya 40% kebutuhan kayu yang mampu di pasok dari sumber
kayu legal oleh hutan Indonesia. Kawan-kawan yang bekerja diisu hutan dan
gank Bogor pasti lebih tahu mengenai hal ini .
Mungkin, pengurus negara terlanjur mencintai banjir . Saat bencana banjir
datang, orang akan lupa terhadap perilaku bobrok pengurus negara, mulai
korupsi sampai dampak kenaikan BBM, naiknya harga barang-barang dan antrian
BLT. Apalagi banjir datang, bisa berarti : Belanja. waktunya menghabiskan
anggaran bencana di APBN hingga APBD, serta………… yang paling
menyenangkan : memobilisasi bantuan. Setidaknya, korupsi akan menemukan
peluang-peluang baru ditengah-tengah kesibukan pengelolaan bantuan bencana.
Pasca bencana, akan memungkinkan lahirnya proyek-proyek baru penanganan
paska bencana, mulai pembangunan fisik hingga pelayanan psikologis . Proyek
baru berarti lahan korupsi baru, sampai musim kemarau datang, jika ada
bencana kekeringan dan paceklik, …….klik, ……..klik …..maka proyek
baru akan datang.
Duh….. pengurus negeri ini telah kecanduan banjir.
Mae, Jakarta, 8 januari 2006