Thursday, January 19, 2006

BODYSPACE

Sebagai perempuan, apalagi perempuan aktivis, mau gak mau kita harus lebih adil  memperlakukan badan kita. Bagaimanapun Kita tidak akan bisa mengekspresikan ideologi , cinta , keyakinan saat kita sakit.

 

Apalagi para perempuan aktivis yang saya kenal, suka gelap mata ama kekuatan badannya. Seolah-olah mereka punya kesaktian warisan nenek moyang….. Padahal mereka “hanya” perempuan hebat dan spesial  dengan kekuatan terbatas”.

 Sepertinya kita  harus menyediakan ruang untuk membuat masalah-masalah tubuh kita dibicarakan, dipikirkan bersama, memberikan ruang “bernafas” buat tubuh kita, saya ingin menamakannya “BODY SPACE” . Bagian ini termasuk bagaimana kita membicarakan urusan reproduksi dan hubungan untim. Saya jadi ingat buku “Monolog Vagina ” karya Eve Ensler. Perempuan cenderung menghindari bahkan mengabaikan untuk saling berbagi cerita urusan “body space” nya. Saya ingin mengajak kita merubah itu.  itulah mengapa ada  ecosister,  tak ada keraguan menyampaikan apa masalah tubuhnya.  Banyak yang jago diantara kita, ada yang jago asma, jago sakit menstruasi, jago sari awan, dari kejagoan mereka kita bisa saling membagikan pengalaman.  

Sehingga kita dengan sadar memilih apa yang di asupkan kebadan kita tiap harinya, termasuk asupan  “batin” ( ceileeee…. dalem neh). Kenapa tidak rutin makan baso atau saos tomat merah… rah,  atau kenapa menggunakan produk A atau produk B.  Bukan didominasi Imaj agar kita “cantik ” agar “enak” atau agar “mahal dan bermerk”  ,  tetapi agar kita sehat.  

 Setidaknya kita akan mencoba untuk tidak menjadi “perempuan biasa”. Tak lagi menjadi konsumen pasar yang berbasiskan iklan televisi, papan reklame ataupun radio. Tetapi karena kebutuhan untuk sehat dan bugar.  

 BODY SPACE dalah ruang ecosisters untuk menshare tips sehat dan membangun “health knowledge” . Mari bergabung.

Posted by ecosisters at 05:13:34 | Permalink | Comments (2)

Menghindari kanker Payudara

Ingin terhindar dari Kanker Payudara, lakukan 7 (tujuh) tips berikut : 
 
1.Hindari makan BAKSO terlalu sering, karena menurut ahli terapi yang pernah ku kunjungi akan memicu kanker pada perempuan akibat kandungan BORAK dalam proses pembuatan BAKSO …………… (Thanks’s untuk kiriman  Entin)
 

2.Jika sudah terdapat gejala kanker cobalah banting setir menjadi  VEGETARIAN dan TIDAK MEMAKAN masakan yang mengandung MSG (baca vetsin).

3.Jika sudah terkena kanker coba cari alternatif selain pengangkatan (operasi), karena operasi akan menghilangkan sel-sel di payudara itu sendiri.

4. Puting susu rajin dibersihkan dengan baby oil serta memakai cotton bud. (Jangan pakai sikat ya, nanti yang punya bayi, bayinya pada protes, putingnya  berasa berasa pasta gigi)

5.Untuk kebersihan VAGINA gunakan air rebusan daun sereh, seminggu sekali. (air rebusannya didinginkan dulu yeee…, sirihnya juga jangan banyak-banyak, nanti vaginanya jadi ijo…) 

6.Jika KEPUTIHAN jangan digaruk- garuk apalagi menggunakan sisir, coba pakai air rebusan sereh tadi jika parah,serehnya dimemarkan dulu sebelum direbus. (yang beber neh… garuk pakai sisir?)

7.Baiknya jangan menggunakan pembersih VAGINA yang banyak beredar, karena akan menghilangkan PH alami di Vagina itu sendiri. Tingkat keasaman alami di Vagina sebenarnya membantu membunuh bakteri ataupun jamur.


Posted by ecosisters at 04:49:09 | Permalink | No Comments »

Friday, January 13, 2006

Banjir itu candu

delapan… tiga, dua , satu ……..Byuuur :

Tenang saudara-saudara, tenang….banjir sudah datang

(iklan rokok putih A Mild)

  

Aku bukan perokok, dan tidak suka asap rokok karena suka bikin asmaku kambuh, tapi untuk iklan yang satu ini, aku mau angkat jempol tangan hingga kaki Dari waktu-kewaktu iklan A Mild makin cerdas. Dari mulai nyentil pendidikan,  penerangan hingga banjir. Aku rasa kalian setuju jika iklan ini adalah paling cerdas  di televisi saat ini. Iklan ini dengan tajam menggambarkan banyak hal, pemerintah yang mati rasa, rakyatnya yang tak berdaya dan dipaksa beradaptasi terus dengan bencana dan banjir, dan mau lagi  Sampai tidak tahu bagaimana dan siapa yang harus bertanggung jawab atau bersuka rela mengurai benang kusut bencana banjir yang terjadi : …….TANYA KENAPA? 

iklan ini mengantarku pada satu kejadian : bencana banjir di Jember. Di

Kotaku, setidaknya sekitar 40 km dari rumahku. Nama tempatnya desa Kemiri,

kecamatan Panti. Terakhir dikabarkan Korban meninggal sedikitnya 107 orang,

dan ribuan mengungsi. Bencana datang menjelang malam, setelah hujan datang

tak berhenti. ratusan rumah, pasar , masjid dan lainnya rata terbawa arus

sungai bersama gelondongan kayu baik kayu lapuk tua hingga baru. memang tak

sedahsyat bencana Bohorok, dengan kayu yang gelondongan se gedong-gedong itu.  

 

Ironisnya, pejabat negara ini secara berjamaah , mulai Bupati hingga

presiden menyatakan bahwa bencana datang karena kehendak Allah SWT,

penyebabnya hujan yang terus menerus, hutannya tidak ada yang gundul

menurut  foto satelit. Masih utuh dan bagus. Ah….. aku jadi tak habis

bikir, sejak kapan Tuhan suka iseng mengirimkan bencana tanpa alasan,

bahkan tanpa tanda. Apalagi dengan kondisi lahan kawasan hulu yang rusak

berat. Maaf Tuhan, …….. yang paling aman dilakukan oleh pengurus negara

ini memang menyalahkan Mu. Entah Kau suka atau tidak ! 

 

Waktu sekolah dulu,  aku sempat menelusuri sungai kaliputih (sungai yang

bajir tersebut), bersama Jack, adikku di MAPENSA, kami bersepeda

motor  hingga jalan kaki menyelusuri sungai kali putih sekitar tahun 1999.

Waktu itu kami mencari tahu mengapa air sungai menjadi sangat putih

berpasir dan berbau seperti belerang busuk, selama beberapa bulan. Sumpah !

daerah sepanjang tepi sungai sangat indah dengan tebing-tebing tingginya.

Kami menjumpai hewan-hewan yang aneh, katak aneh berwarna hijau terang dan

bisa terbang, hingga puluhan pacet (lintah yang hidup di darat) penghisap

darah, air terjun dan beberapa bagian pasir hisap dipinggiran sungai.

Sayangnya kami tak bisa mencapai bagian paling hulu sungai, peralatan tidak

memadai. Kawasan huluuuuuu sungai ini adalah kawasan pegunungan hyang,

Argopuro. Tempat  pecinta alam bermain , mengamati burung hingga melakukan

Diklat. Kawasan pegunungan bersejarah lengkap dengan patung dewi Rengganis

di puncaknya. Bagian yang aku suka di Argopuro adalah Cikasur. Savana datar

luas dan dingin, tapi dekat air dan selada airnya lezat tiada dua. 

 

Darimana datangnya Banjir

sejak reformasi, kawasan diatas mengalami penjarahan kayu serius, kawasan

tersebut termasuk Cagar alam gunung Abang dan hutan lindung  sekitarnya.

Tak hanya dikawasan ini. Hampir semua hutan jawa mengalaminya. Apa

penyebabnya ?  

 

Ada beberapa hal, PERTAMA, paradigma memposisikan kawasan-kawasan

penyangga, baik yang berbentuk hutan lindung hingga Taman Nasional sebagai

kawasan yang tidak bernilai ekonomis bagi pengurus negara. Sehingga tak

perlu diperhatikan dan diurus dengan baik dan adil. Akibatnya kawasan “yang

dilindungi” ini seolah ada tetapi tidak dikelola dengan serius untuk

mendukung fungsinya. Kangan heran jika banyak warga tepi hutan banyak yang

hidup dibawah garis kemiskinan. Misalnya dengan pemilikan lahan rata-rata

dibawah 0,2 ha di sekiutar kawasan Taman Nasional meru betiri, sepertinya

tidak berbeda dengan kawasan lainnya.  Bahkan sebagaian besar adalah buruh

tani. Akhirnya kawasan-kawasan ini diabaikan. Malah jika mungkin,

kawasan-kawasan ini dialih fungsi agar punya “nilai ekonomis”. Ingat

bagaimana rencana alih fungsi kawasan Taman nasional meru betiri menjadi

tambang emas skala besar, rencana pembangunan infrastruktur jalan lintas

selatan Jatim dan rencana-recana raksasa lainnya.  Tanpa peduli daya dukung

lingkungan kawasan. Dilain pihak, kawasan-kawasan ini dijadikan dagangan

untuk mendukung berbagai “dagangan global” tentang “kepedulian ” terhadap

pelestarian ekosistem dan kawasan. Apa yang terjadi ? program-program

instan-lah yang banyak dipilih untuk mempopulerkan sebuah kawasan menjadi

lebih dikenal nama dan fasilitas yang disediakannya dibanding dikenal dan

disadari publik fungsi kawasan bersangkutan ataupun program bagaimana bisa

lebih mensejahterakan masyarakat sekitarnya. KEDUA, Ketidak adilan terhadap

rakyat sekitar kawasan penyangga ekosistem,  yang dilarang mengakses

kawasan tersebut sejak berstatus dilindungi, bahkan untuk sekedar mencari

sayuran ataupun bambu dihutan. Sementara para cukong kayu dan aparat

pengelola kawasan hingga kepolisian dan tentara berpesta pora mengeluarkan

kayu-kayu dari kawasan. Saat reformasi tiba, rakyat dan oknum aparat pun

merasa bebas dan “bisa balas dendam”. 

 

Sayangnya kebebasan ini kebablasan. Termasuk merasa bebas ramai-ramai

menebang kayu dan menanami tanahnya dengan tanaman semusim. Untuk apa ?

Untuk membiayai gaya hidup konsumtif yang diperkenalkan  orang kota,

televisi, radio dan perilaku pejabat serta selebritis negeri ini (termasuk

selebritis NGO lho). Mulai dari membeli sepeda motor, televisi hingga

pelesir ke kota untuk melihat “kemajuan”. Ini bisa di ibaratkan menggali

beramai-ramai kubur sendiri.  

 

Dalam 4 tahun terakhir, sektidaknya hutan di Jember menyusut hingga 26%.

Kawasan cagar Alam gunung abang dan sekitar pegunungan Hyang memiliki

batuan dengan pelapukan tinggi dengan formasi batuan dengan tingkat

kekuatan tanah dan batuan rendah. sehingga kehadiran hutan peranan sangat

penting pada kawasan ini untuk menyeimbangkan proses pelapukan. Kondisi

tanah yang rentan, pada kawasan-kawasan dengan kelerengan tinggi dan

tutupan hutan berkurang akan beresiko bencana saat tak mampu menahan

tingginya intensitas dan curah hujan yang datang.  

 

Penjarahan hutan di era reformasi disekitar Pegunungan Hyang dan CA Gunung

abang ini bahkan sempat di dokumentasikan oleh salah seorang dosen UNEJ.

Serombongan tim Dephut dari propinsi , juga pernah datang melakukan

investigasinya pada tahun 2003. telah diketahui kawasan tersebut hutannya

rusak Tapi tidak dilakukan tindak lanjut apapun. Mungkin karena tidak ada

proyek. tidak ada anggaran, kawasan penyangga, kawasan kering perhatian.

Kelompok PA Faperta Unej, MAPENSA, bahkan menemukan penyusutan

keanekaragaman burung sejak tiga tahun terakhir dikawasan pegunungan

Argopuro  Hyang , setidaknya hingga 30 jenis setiap tahunnya. Angka yang

lumayan tinggi. Burung adalah indikator keamanan dan kenyamanan suatu

wilayah. Important Bird Area (IBA), merupakan kawasan-kawasan kaya jenis

dan jumlah burung yang umumnya berada dikawasan-kawasan ketinggian. salah

satunya Argopuro. berkurangnya jenis burung menunjukkan ada masalah dalam

jaring-jaring ekosistem dan rantai makanan dikawasan tersebut, atau dengan

kalimat pendek kawasan tersebut sedang mengalami gangguan serius, yaitu

perubahan habitat, terjadinya alih fungsi hutan.  

 

Kawasan paling berhutan di Jawa

Jawa timur merupakan bagian pulau Jawa yang hutannya masih luas dan memilik

kawasan konservasi terbanyak, diantaranya lima buah Taman Nasional. Kawasan

Jember dan Banyuwangi  adalah dua kabupaten yang kawasan hutannya paling

banyak di Jatim, sekitar 25%, dari 30% yang disyaratkan. Yang harus digaris

bawahi, kawasan-kawasan yang paling berhutan ini ternyata juga dikunjungi

bencana. Tanggal 20 desember 2005, di Banyuwangi, juga telah terjadi banjir

di Grajagan akibat rusaknya hutan dikawasan hutan lindung Grajagan yang

dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi selatan, 2 orang meninggal , puluhan

rumah rusak dan korbannya  mencapai 130 KK , mulai  yang rumahnya terendam

hingga warga yang megalami sakit kulit akibat lingkungan banjir.

Menyusul  berikutnya tragedi di Jember.  

 

Sepertinya tidak tepat lagi kita menyebutnya sebagai bencana alam, seolah

alam iseng menyebabkan bencana, alam lah yang salah. jika alam yang salah

biasanya Tuhan yang disalahkan. lebih tepat  menyebutnya bencana ekologi.

Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak beres dan dibiarkan. 

 

Irionisnya, pengurus negara dan rakyat menyikapinya seolah ini adalah

kejadian baru, dengan ritual yang sama. Kunjungan pejabat, penggalangan

bantuan dan tayangan derita di media. Padahal bencana banjir, sepaket

dengan longsor dan kekeringan  berlangganan setiap tahun dan telah

meningkat sejak 5 tahun terakhir. Kawasan dengan intensitas banjir terbesar

adalah Jawa tengah dan Jawa Barat. menurut data Satkorlak, 2003, kejadian

banjir di Indonesia meningkat menjadi 236 kejadian banjir pada  26 propinsi

di Indonesia pada tahun 2003, dimana 20 kejadian diantaranya terjadi di

Jawa tengah dan 12 lainnya di Jateng dan 9 kejadian di Jatim. Angka

tertinggi di di Jawa. 

 

Hutan-hutan di Jawa tengah dan Jawa barat sesungguhnya telah terlebih

dahulu di jarah, atau terlebih dahulu habis. Jawa timur sepertinya akan

menyusul menjadi langganan bencana banjir menyamai dua tetangganya yang

lain. Setidaknya dengan rusaknya kawasan hutan produksi dan hutan rimba di

barat pulau Jawa, maka Jawa timur yang kondisi hutannya masih “lebih baik”

akan berpotensi menjadi pemasok kayu bagi industri lokal maupun luar daerah

di pulau Jawa, baik dengan cara legal maupun  ilegal. Jika dibandingkan

dengan potert pemenuhan kayu di Indonesia, tentu cara ilegal yang paling

banyak. Saat ini hanya 40% kebutuhan kayu yang mampu di pasok dari sumber

kayu legal oleh hutan Indonesia.  Kawan-kawan yang bekerja diisu hutan dan

gank Bogor pasti lebih tahu mengenai hal ini . 

 

Mungkin, pengurus negara terlanjur mencintai banjir . Saat bencana banjir

datang, orang akan lupa terhadap perilaku bobrok pengurus negara, mulai

korupsi sampai dampak kenaikan BBM, naiknya harga barang-barang dan antrian

BLT. Apalagi banjir datang, bisa berarti : Belanja. waktunya menghabiskan

anggaran bencana di APBN hingga APBD, serta………… yang paling

menyenangkan : memobilisasi bantuan. Setidaknya, korupsi akan menemukan

peluang-peluang baru ditengah-tengah kesibukan pengelolaan bantuan bencana.

Pasca bencana, akan memungkinkan lahirnya proyek-proyek baru penanganan

paska bencana, mulai pembangunan fisik hingga pelayanan psikologis . Proyek

baru berarti lahan korupsi baru, sampai musim kemarau datang, jika ada

bencana kekeringan dan paceklik, …….klik, ……..klik …..maka proyek

baru akan datang. 

 

Duh….. pengurus negeri ini telah kecanduan banjir.

   

 

Mae,  Jakarta, 8 januari 2006

Posted by ecosisters at 09:06:09 | Permalink | No Comments »