Thursday, September 29, 2005

konservasi yang aneh

Saya lagi baca satu buku tentang community based conservation. Ada satu ‘case study’ yang ingin saya kutip untuk di share… semoga bermanfaat.

Health Consequences of Conservation

A large conservation organization on a small Pacific island was concerned to protect coral reefs. Its strategy to create a marine protected area where the harvesting of certain species was prohibited. The protected area was set up and functioned well for a number of years before a team evaluate the effort. By chance, they went to local clinic and looked at the health records. They were astonished to find a decline in birth weights and an increase in case of malnutrition among girls between the ages three and five years. The health worker reported that the intensive logging on the island had led to a steep decline in soil fertility and thus harvest failures over the past few years. Further inquiries led to the finding that since reef fishing and shellfish gathering had been restricted, fish were given primarly to senior people and eaten by others only on feast day.

Kalo udah gini, konservasi ya kudu dibalikin ke masyarakat kali ya….. (Ijul)

Posted by ecosisters at 10:01:47 | Permalink | No Comments »

Wednesday, September 28, 2005

monalisa smile?

Pada tanggal 17-18 September 2005 yang lalu, beberapa personel ecosisters yang kebetulan ‘lulusan’ training fasilitasi INSPIRIT bekerjasama dengan WALHI dan Keluarga Mahasiswa ITB mengadakan training ‘menjadi pembaru sosial’ bagi anak-anak ITB (Institut Teknologi Bandung).

Training ini menjadi pengalaman yang menarik untuk gue, ijul, ai, agi (bersama farid, iwan dan wilda dari WALHI) karena ini adalah debut kami melakukan training beneran, apalagi ini diperuntukkan bagi mahasiswa. Dalam training yang menganut mazhab ‘fasilitasi dinamik’ ini, kami mengaplikasikan perkawinan otak kiri (yang rasional) dan otak kanan (yang kreatif) sehingga training ini jadi sesuatu yang fun tapi juga tidak kehilangan substansi pentingnya. Para mahasiswa diperkenalkan secara langsung dengan konsep tentang kemiskinan yang mungkin selama ini jadi fenomena yang dilewatkan begitu saja (mereka melihat setiap hari tapi penglihatan itu nggak ada maknanya buat mereka). Dari lembar evaluasi yang mereka isi, hampir seluruhnya merasa puas dan mendapatakan manfaat dari training ini. Alhamdulillah!

Yang cukup menarik pula, ketika ditanyakan ingin menjadi apa mereka 15 tahun mendatang, sebagian besar peserta perempuannya menggambarkan ingin menjadi ibu rumah tangga yang ideal –punya suami dan anak, hidup nyaman dan secure di rumah berumput hijau. Hmmmmm, jadi ingat film Monalisa Smile yang diperani Julia Roberts. Di film itu –yang mengambil setting Amerika Serikat di tahun 60-an– Julia Roberts yang menjadi guru di sekolah putri berasrama harus melawan mainstream sebagian besar orang tua yang menginginkan anak-anak perempuannya jadi istri ideal –pandai melayani suami, tinggal di rumah bercat putih dengan rumput hijau, bersarung tangan putih dengan sasakan rambut yang sempurna. Padahal, banyak siswa cemerlang yang berpotensi untuk mengubah dunia dengan talenta mereka masing-masing.

Fenomena di ITB tadi kemudian menjadi bahan diskusi kami berempat. Ada apa dengan ‘adik-adik’ kita? Mungkin tidak ada yang salah dengan cita-cita itu…tapi tak adakah keinginan lain mereka? Atau, hanya segitukah eksplorasi mereka atas potensi yang mereka miliki?

Ada comment? [yaya]

Posted by ecosisters at 08:14:13 | Permalink | No Comments »

ecosisters are back!

welcome!!!

ecosisters muncul lagi…kali ini harus menggebrak! blog ini didedikasikan untuk perempuan-perempuan yang sedang semangat membangun kebersamaan, saling sharing, saling asah dan saling asuh (motto jaman pak harto banget ya….).

ide-ide, pengalaman, pemikiran, curhat, isu, dan ‘isu’ are very welcome selama bertujuan positif dan memberdayakan…express yourself…show your colors!

 

Posted by ecosisters at 07:37:01 | Permalink | No Comments »